Review kitab Manhaj Haraki; Strategi Pergerakan Nabi SAW.

MANHAJ HARAKI
STRATEGI PERGERAKAN DAN PERJUANGAN POLITIK DALAM SIRAH NABI SAW. (JILID 1)

Deskripsi buku
Judul Asli                     : Al-Manhaj Al-Haraki lis Shiratin-Nabawiyah
Penulis                         : Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban
Penerbit                      : Maktabah Al-Manar, cetakan pertama  1404 H/1984 M
Judul Terjemahan       : Manhaj Haraki Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi Saw.
Penerjemah                : Aunur Rafiq Shalih Tamhid, Lc, Asfuri B., Anshori Umar S.
Tebal halaman            : 654 + xxiv halaman
Penerbit                      : Robbani Press, cetakan pertama 1992 M
Harga                          :

Review Kitab Buku Manhaj Haraki

Dalam pendahuluan bukunya, syaikh Munir al-Ghadban menjelaskan pengertian Manhaj Haraki sebagai  “langkah-langkah terprogram (manhajiah) yang ditempuh Nabi saw. dalam gerakan dakwahnya, semenjak kenabiannya sampai berpulang kepada Allah”. Jika kita ingin agar gerakan Islam yang kita lakukan berjalan secara benar, maka kita harus melacak tahapan-tahapan pergerakan Rasulullah langkah demi langkah serta mengikuti langkah-langkah tersebut. Allah berfirman: “Sesungguh-nya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (al-Ahzab: 21).
Periode-periode manhaj ditentukan dalam lima periode, yaitu:
Ø  Periode pertama : Sirriyatu ad-Da’wah dan Sirriyatu at-Tanzhim (Berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan struktur organisasi). Dimulai dari Bi’tsah Nabawiyah (pengangkatan sebagai nabi) sampai dengan turunnya firman Allah, “Wa andzir ‘asyiratakal Aqrabi” (Asy-Syu’ara’ [42] : 214) dan firman Allah ‘Fashda bimaa tu’mar ‘aridh ‘anil musyirik’ (Al Hijr [15] : 94)
Ø  Periode kedua : Jahriyatu ad-Da’wah dan Sirriyatu at-Tanzhim (Berdakwah secara terang-terangan dan merahasiakan struktur organisasi). Berakhir pada tahun 10 kenabian.
Ø  Periode ketiga : Iqamatu ad-Daulah (Mendirikan Negara). Pembentukan Daulah di Madinah, dan berakhir pada awal tahun pertama Hijrah.
Ø  Periode keempat : ad-Daulah wa Tatsbiti Da’a’imiha (Negara dan penguatan pilar-pilarnya). Berakhir dengan Shulhul Hudaibiyah.
Ø  Periode kelima            : Intisyaru ad-Da’wah fi al-Ardhi (Kemenangan dakwah di bumi). Perjuangan politik dan kemenangan risalah. Berakhir dengan wafatnya Rasulullah saw.
Dalam jilid 1 terbitan Robbani Press ini ada empat periode yang dibahas oleh penulis secara tuntas. Sementara periode kelima-nya di terbitkan terpisah di jilid yang ke-2.
Sejarah bukan hanya cerita tentang serpihan peristiwa masa lalu, namun juga memberikan pelajaran berharga pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Bila al-Qur'an banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu, dan hadits pun banyak merekam beragam peristiwa penting dalam perjuangan Islam, maka apalagi alasan bagi kita untuk tidak memberikan porsi kajian yang besar pada sirah, lebih-lebih sirah nabawiyah.
Karena itu, K.H. Rahmat Abdullah, yang memberi pengantar pada buku ini, melontarkan kritiknya terhadap kerangka keilmuan yang dibentuk oleh para ulama dahulu, yaitu akidah, fiqih, dan akhlak. Ketiga kajian ini diakuinya memang cukup mampu membentuk pribadi Muslim yang sadar akan kewajibannya terhadap Allah dan masyarakat. Namun menurutnya ada yang terputus.
Ketiga kajian ini jelas kekurangan satu hal pokok, yaitu “mata rantai yang akan menghubungkan mereka dengan Rasulullah, bahkan dengan Nabi-Nabi sebelum-nya.” Ini disebabkan tiadanya kajian sirah ataupun sejarah Islam yang berdasar-kan wa'yu (kesadaran ilmiah). Padahal sekali seseorang berbicara sirah, maka ia pasti merupakan bagian integral dan ummatan wahidah . Ia akan mewarisi spirit masa lampau umat Islam yang sangat kaya dan menumbuhkan militansi. Karena itu, putusnya mereka dengan sirah membuat lemahnya girah dan ruhul jihad.
Di sinilah peran penting yang dimainkan buku sebesar Manhaj Haraki ini. Sejarah yang ditulis da'i mujahid ini menampilkan sosok yang jauh berbeda dengan para penulis “ilmiah” pada umumnya. Penghayatan terhadap ruhul jihad dalam kehidupan Rasulullah merupakan modal utamanya. Hal ini karena mereka berada pada satu alur yang sama dengan Rasulullah, yaitu harakah dan dakwah. Maka penggambaran yang mereka sajikan bukan lagi masalah kronologis belaka, tetapi sudah masuk pada isi pembahasan yang mengasyikkan dan sangat bermanfaat bagi dakwah dan pergerakan.
Buku-buku sejarah memang telah banyak ditulis orang. Namun kitab Manhaj Haraki dalam Sirah Nabi Saw. ini tetap harus disambut dengan antusiasme yang besar, karena karya Munir Muhammad al-Ghadban ini menjadi pengecualian dari buku-buku itu. Bukan hanya karena studinya yang lebih spesifik, yaitu kajian tentang pergerakan dan perjuangan politik dalam sirah nabawiyyah, namun Munir al-Ghadban juga menyajikan fakta dan data, yang dirangkai dengan studinya yang ekstensif, analisa yang tajam dan mengagumkan dengan daya kritis yang tinggi.
Tokoh pergerakan kelahiran Syria yang juga dosen di Universitas Ummul Qura Saudi Arabia dan di Jami‘ah al-Iman Yaman ini memperlihatkan kepiawaiannya yang luar biasa sekali dalam mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontemporer. Marhalah (periode) demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan sangat memikat sekali, seraya dibedah watak dan karakteristiknya, lalu diproyeksikan dan direkonstruksi kembali ke dalam iklim pergerakan Islam modern.
Ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, tumbang dan berguguran, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali. Buku ini harus menjadi bacaan ‘wajib' bagi pada aktivis da‘wah dan Harakah Islam, serta para peminat sejarah Islam. Juga menjadi bacaan yang bermutu bagi kaum muslimin pada umumnya. Karena kitab ini nyaris sempurna dalam mengupas dan merunut manhaj haraki atau langkah-langkah terprogram yang ditempuh Nabi saw. dalam gerakan dakwahnya, sejak kenabiannya sampai berpulang kepada Allah.
Dalam periode pertama dakwahnya, Rasulullah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang pentingnya merahasiakan dakwah, sekaligus merahasiakan struktur organisasinya. Periode ini dimulai dari gua Hira’ dan berakhir tiga tahun setelah kenabian. Beberapa karakteristik penting dalam fase ini adalah, bagaimana berdakwah melalui intelektualitas da’I dan status sosialnya. Terdapat 60 sahabat dari beragam kabilah Quraisy telah menyatakan bai’atnya kepada Rasulullah. Karena dakwah masih bersifat personal dan umum, maka kaum Quraisy tidak memberikan perhatian khusus terhadap dakwah, bahkan kaum Quraisy lebih memfokuskan perhatiannya pada golongan “hanif” daripada kaum muslimin. Fokus dakwah dititik beratkan pada pembinaan aqidah, dan setelah terbentuk kader inti-kader inti yang kuat, barulah dakwah dilaksanakan secara terang-terangan.
Pada periode kedua, Rasulullah menjahriyahkan dakwahnya, namun tetap merahasiakan struktur organisasinya. Periode jahriyah ini dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu jahriyah Rasulullah saw, kemudian jahriyah kaum muslimin. Adapun jarak kedua tahapan ini sedikit sekali, hanya 2 tahun. Periode ini dimulai sejak turunnya perintah Allah, “maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (QS.15:94) dan firman Allah “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat” (QS. 26:214), dan berakhir ketika Rasululullah saw. keluar Mekah untuk mendirikan Negara Islam. Dengan demikian periode ini berlangsung selama 7 tahun.
Beberapa karakteristik penting dalam fase kedua adalah, Rasulullah memulai dakwah secara terang-terangan kepada keluarga terdekat. Tantangan, hambatan, dan siksaan menerpa kaum muslimin pada fase ini. Sementara kaum muslimin diperintahkan untuk sabar menanggung siksaan dan penindasan di jalan Allah, dan hanya membela diri bila dalam keadaan darurat. Adapun bagi mereka yang lemah, diperbolehkan menampakkan “kemurtadan”nya. Fokus dakwah pada periode ini menekankan kepada aspek spiritual, dan memobilisasi dakwahnya dengan pertemuan rutin dan kontinyu. Periode ini berakhir setelah tahun duka cita.
Periode ketiga adalah periode tentang mendirikan Negara. Banyak karakteristik penting pada fase dakwah ini yang menitik beratkan pada strategi politik dakwah Rasulullah. Serangkaian perundingan dan baiat mewarnai fase ini. Izin perang (QS.al-Hajj [22]:39-41) juga keluar di periode ini, yakni izin berperang karena mereka teraniaya. Di Fase ini pula pengumuman pertama untuk syiar-syiar ibadah, serta dibangunnya masjid pertama di Quba’. Dimulai ketika perjalanan berdarah ke Thaif hingga hijrahnya Rasululullah ke Madinah, yang menandakan berakhirnya fase ini sekaligus periode Makkiyah dalam dakwah Rasulullah saw.
Periode keempat, atau periode terakhir yang dibahas dalam buku ini, sekaligus menjadi periode paling panjang dibahas. Deklarasi Negara Islam, konfrontasi fisik dalam perang, serta strategi jenius seorang pimpinan, menghiasi karakteristik periode ini. Berakhir pada perang Khandaq, periode ini merupakan periode penguatan pilar-pilar Negara yang telah dibangun pada periode sebelumnya.
Berakhirnya periode keempat (sekaligus juga akhir dari jilid 1 buku ini) menjadi akhir dari periode pengokohan kedalam. Tahap bertahan telah usai dan tahap menyerang dimulai, tahap penyebaran Islam di muka bumi serta pengokohan eksistensi agama.
Akhir kata, buku ini tidak hanya memberikan arahan terhadap langkah-langkah yang harus di tempuh oleh harakah Islam, namun lebih jauh buku ini juga memberikan teropong baru untuk melihat khasanah Sirah Nabawiyah yang kental dengan semangat jihad. Inilah “nyawa” yang menjadikan buku ini hidup, bukan sekadar “memuaskan dahaga intelektual” semata.
Wallahu a’lam bish-shawab

KAMMI vs LDK; Berebut lahan dakwah??

Logo KAMMI
KAMMI, yang dideklarasikan di Malang tepat 17 tahun yang lalu, menjelma menjadi sebuah organisasi besar hanya dalam sekejap. Puluhan cabang di hampir seluruh provinsi di Indonesia berdiri hanya dengan hitungan hari. Demonstrasi massal yang digelar tak lama setelah dideklarasikannya, diikuti oleh ratusan, bahkan ribuan mahasiswa. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana cara KAMMI menggerakkan mesin secepat dan sebesar itu??

Deklarasi pendirian KAMMI yang mengambil momentum pelaksanaan FSLDK-N X di Malang, memang bukan tanpa alasan. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) pada tataran praksis, merupakan wadah gerakan dari sebuah jamaah tarbiyah. Gerakan ini memang menjamur di kampus-kampus, sejak era 80-an. Bergerak dengan sistem sel dari masjid ke masjid, tarbiyah merebak dengan kecepatan eksponensial. Dalam waktu singkat, jamaah ini telah memiliki ribuan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.
(Baca juga: Peran-peran historis KAMMI)

Forum FSLDK sejatinya adalah ‘wadah silaturahim’ dari pegiat tarbiyah. Kesamaan visi, misi, dan kedekatan ideologi, menjadikan ide pendirian sebuah organisasi sebagai wadah politik kader LDK mendapat sambutan hangat. Berbekal diskusi-diskusi panjang terkait apakah harus menjadi bagian atau terpisah dari LDK, KAMMI akhirnya didirikan. Keputusan akhirnya adalah; organisasi ini terpisah dari LDK, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan tarbiyah. Jadi, anggota KAMMI direkrut dari kader LDK, sebagai wadah politik kader-kadernya. LDK menyelenggarakan tarbiyahnya, KAMMI yang mendidik kafaah politiknya. Selesai.

Atas alasan inilah, peserta FSLDK-N yang kembali ke daerahnya dengan semangat 45 membentuk cabang-cabang di daerahnya masing-masing. Bak cendawan di musim hujan, hanya dalam hitungan hari KAMMI telah bermetamorfosis sebagai sebuah organisasi besar yang layak diperhitungkan. Kontestasi politik nasional, ditengah krisis multidimensional yang menyeret penguasa kala itu untuk lengser keprabon, menjadi bukti betapa kuatnya manajemen kepemimpinan ditubuh KAMMI. Demonstrasi besar-besaran yang digelarnya, nyaris tanpa cela. Sebuah organisasi potensial telah tumbuh!

Masalah mulai muncul ketika KAMMI, dalam perkembangannya, merekrut kader yang -tidak hanya- internal LDK lagi. Dalam konteks perluasan dakwah, tentu hal ini berbuah positif. Jaring perekrutan  yang ditebar menjadi lebih luas, dan potensi perekrutan kader jadi lebih terbuka. Tapi masalah utamanya adalah adanya “persaingan” antara KAMMI vs LDK. Mencangkul di lahan yang sama, saling tarik menarik kader, dan benturan kepentingan, mewarnai fastabiqul khoirot antara keduanya.

Semakin berkembangnya organisasi ini, membuat masalah diatas sedikit demi sedikit teratasi. Pembagian job dan distribusi kader, menjadi satu dari beberapa solusi yang muncul. Tapi apakah kemudian seluruh masalah praktis terselesaikan??

Masalah yang lebih pelik adalah, setelah tarbiyah tidak lagi menjadi domainnya LDK, sedikit demi sedikit KAMMI telah berubah menjadi seperti LDK. Kaderisasi KAMMI sibuk mencetak kader, sementara pendidikan politiknya menjadi ‘agak’ terpinggirkan. Muslim negarawan menjadi jargon hambar tanpa aksi-aksi nyata. KAMMI sibuk mencetak kader yang: ibadah taat, aksi dahsyat, prestasi hebat. Dengan penekanan pada aksi yang tidak melulu pada aksi-aksi politik ekstra parlementer. Aksi itu luas, katanya. Apologetis itu tidak sepenuhnya salah. Benar dalam tataran teoritis, tapi menjadi ambigu dalam tataran praksis.

Konsep kaderisasi KAMMI menjadi salah satu korban ambigiusitas tadi. Dalam tataran konsep, kurikulum kader AB I (anggota biasa I) KAMMI memuat poin-poin kurikulum yang ‘hampir mirip’ dengan kurikulum tarbiyah. Lantas, jika kader hasil rekrutan KAMMI adalah kader yang sudah terbentuk di LDK, dalam pengertian yang lebih vulgar adalah kader yang sudah tertarbiyah sebelum masuk KAMMI, masihkah harus mengikuti “tarbiyah” di KAMMI?? Jika tidak, apakah bisa langsung “loncat” ke AB II?? Bagaimana menjawab kecemburuan dari kader yang murni hasil rekrutan KAMMI??

Jika pilihannya adalah membuat kurikulum kader yang ‘berbeda’ dengan kurikulum tarbiyah, bagaimana dengan kader yang tidak tertarbiyah tadi?? Mereka akan berubah menjadi kader politis dengan standar muwashshofat yang sulit dipertanggungjawabkan. Dilematis.

Hasilnya?? Munculnya kader-kader tanggung. Kafaah syar’iyah yang tanggung, konsep politik yang tidak tuntas, dan semangat gerakan yang kian luntur. Lebih parah lagi, kepedulian akan kondisi politik nasional yang sudah benar-benar tergerus. Tak ada lagi kritikan-kritikan pedas disertasi solusi-solusi cerdas dari KAMMI.

Lantas seperti apa solusinya??

Menurut hemat saya, jalan keluar yang paling ‘win-win solution’ adalah dengan berbagi peran antara KAMMI dan LDK. LDK bertanggung jawab terhadap tarbiyah kader KAMMI, sedang KAMMI fokus mendidik kadernya dengan konsep-konsep politik Islam, menciptakan kader-kader negarawan. Dengan demikian, akan lahir kader-kader yang pakar politik, namun dengan aqidah, akhlak, dan ibadah yang kian ciamik. Ibadah taat, aksi dahsyat, prestasi hebat!!

Bisakah konsep ini dijalankan?? Bisa, selama kita sanggup duduk satu meja menghilangkan egoisme masing-masing. Sungguh, memang tidak ada satupun organisasi yang sempurna. Inilah indahnya berjamaah. Saling melengkapi. Sehingga tak akan pernah muncul lagi gesekan-gesekan karena berada dilahan yang sama, tanaman yang sama, dengan cara menanam yang persis sama.

Selamat milad ke-17 KAMMI. Semoga semakin dewasa, dan semakin banyak kader-kader negarawan yang lahir dari rahimmu.

Salam aksi.

Peran Historis KAMMI, Antara Kemarin dan Hari Ini *Refleksi untuk ulang tahun KAMMI ke-17

Logo KAMMI

29 Maret 1998, bertempat di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kurang lebih 200 pemuda berkumpul membicarakan kondisi dan nasib bangsa Indonesia. Mengambil momentum pelaksanaan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDK-N) ke X, tidak kurang dari 53 Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dari 63 kampus Perguruan Tinggi negeri dan swasta mengambil sikap untuk mengambil peran yang lebih real dan lebih massif. Atas dasar itulah kemudian lahirlah Deklarasi Malang, deklarasi atas kelahiran sebuah organisasi yang menjadi gerakan politik ekstra-parlementer yang selama ini sulit dilakukan oleh Lembaga Dakwah Kampus.

KAMMI lahir pada hari ahad tanggal 29 Maret 1998 M atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijjah 1418 H pkl.13.00 wib dengan komando awal diserahkan kepada Fachry Hamzah.

Sejak pendiriannya, KAMMI bersama elemen bangsa yang lainnya turut mengambil peran politik dengan senantiasa bersikap kritis terhadap pemerintah. Mulai dari demonstrasi besar-besaran menurunkan rezim Soeharto, gerakan penolakan terhadap pemerintahan Gus Dur, hingga aksi kritik massif terhadap pemerintahan Megawati.

Sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), gerakan KAMMI seolah “mati suri”. Selama 2 periode pemerintahan SBY, suara-suara kritis KAMMI seolah meredup. Memang, sempat ada gerakan penolakan terhadap Boediono yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden yang dianggap representasi dari tokoh ekonom yang berhaluan neo-liberalis. Namun aksi-aksi ini tidak semassif gerakan-gerakan sebelumnya, dan oleh beberapa kalangan dianggap gerakan “setengah hati”.

Tidak lagi menjadi rahasia, bahwa kedekatan KAMMI dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi salah satu alasan dibalik berkurangnya intensitas kritik KAMMI. Tokoh-tokoh KAMMI banyak yang kemudian menjadi anggota legislatif dan pengurus PKS, baik di tingkatan pusat maupun daerah. Tentu hal ini bukan menjadi masalah, karena PKS yang mempunyai ikatan historis dan ideologis yang sama dengan KAMMI, memang menjadi sarana politik kader KAMMI pasca kampus.

Kedekatan dengan PKS, padahal disaat yang sama PKS merupakan bagian dari koalisi pemerintahan SBY selama 2 periode, menjadikan KAMMI agak sungkan untuk mengkritik pemerintah. Jadilah KAMMI kembali ke barak, memfokuskan kembali kepada pengkaderan. Agenda-agenda perekrutan dan pembinaan menjadi sentral kegiatan KAMMI dengan dibumbui oleh beberapa “aksi kecil”.

Hal ini agak disayangkan sesungguhnya, mengingat peran-peran pembinaan harusnya telah diambil oleh LDK, sebagai rahim lahirnya KAMMI. Seyogyanya KAMMI tetap memposisikan dirinya sebagai sebuah gerakan politik ekstra parlementer. Berada pada sisi pengontrol kebijakan, dengan tetap berpihak pada rakyat.

Pendulum sejarah berayun kembali, ketika PKS di era Jokowi saat ini berada diluar pemerintahan. Disaat yang sama, pemerintahan Jokowi-JK mengeluarkan serangkaian kebijakan yang tidak populis, dan kesengsaraan rakyat semakin berlipat-lipat. Momentum ini harus disambut dengan sangat baik oleh KAMMI, dengan kembali memainkan perannya sebagai agent of control terhadap pemerintah. Saat yang tepat untuk menunjukkan, bahwa KAMMI sesungguhnya masih berada dipihak rakyat, dan tidak hanya bisa meringkuk nyaman di ketiak penguasa.

Momentum ini, menurut hemat saya, telah disambut dengan baik oleh PP KAMMI, dengan seruan aksi nasional, dan himbauan untuk terus menggelorakan semangat #UltimatumJokowi. Seruan yang disambut dengan hingar bingar di sejumlah tempat di negeri ini. Gayung bersambut, lahirlah demonstrasi-demonstrasi anti pemerintah dimana-dimana. Saatnya KAMMI memainkan peran sejahrahnya.


Walaupun amat disayangkan, ada saja daerah yang tidak mau melakukan aksi. Dengan berbagai alasan, dari sibuk melakukan pengkaderan, hingga adanya “instruksi” untuk tidak turun aksi, mewarnai penolakan mereka terhadap aksi Tolak Jokowi ini. KAMMI di daerah-daerah ini, entah karena telah hilang semangat keberpihakan terhadap masyarakat, terlalu pengecut untuk turun kejalan, atau justru telah ikut serta menjadi kacung-kacung Jokowi. Entahlah.

Tapi satu hal, jika alasan tidak turun kejalan HANYA KARENA sedang sibuk mengurus pengkaderan dan penataan tarbawiyah, maka saat itu KAMMI TIDAK ADA BEDANYA LAGI DENGAN LDK. Hilanglah sudah peran historisnya. Bagi daerah-daerah tersebut, saatnya bagi kalian untuk membuat sebuah deklarasi, “deklarasi penghapusan KAMMI”. Silahkan menyibukkan lagi diri kalian di LDK masing-masing.
(Baca juga: KAMMI vs LDK)

29 Maret 2015, KAMMI akan merayakan ulang tahunnya yang ke 17. Masihkah ada semangat perlawanan itu? Ataukah kalian hanya (telah) berubah menjadi sampah peradaban?? Tertelan dalam hingar bingar debu sejarah??


Selamat ulang tahun ke-17, KAMMI. Semoga tinta emas sejarah akan senantiasa mencatat buah perjuanganmu. Salam aksi.

Manajemen Ide

Manajemen Ide Saat Writers Block


Anda pernah kehilangan ide ketika sedang menulis?? Sedang butuh ide untuk pengembangan usaha tapi otak serasa stuck?? Lagi betul-betul butuh ide namun otak gak mau kerja-sama? Jika iya, maka anda sedang terserang penyakit yang paling sering dialami oleh manusia di muka bumi ini. Penyakit itu bernama "writer's block" (entah kenapa kok namanya pake writer's, padahal yang sering kehilangan ide bukan hanya penulis saja). Tapi saya lebih senang menamakan penyakit ini sebagai “ penyakit blank”. Kenapa?? Karena kalau lagi kena writer's block seringnya benar-benar blank! Haha....

Ada banyak sekali cara untuk menumbuhkan ide. Mulai dengan mengubah suasana, me-refresh kembali, melakukan beberapa hal secara sekaligus (multi-tasking), dan sederet cara-cara praktis menumbuhkan ide yang lainnya.

Tapi satu hal yang pasti, IDE sering datang tanpa diduga, ditempat yang tidak pernah kita sangka, dan diwaktu yang sama sekali sulit ditebak. Ia bisa datang saat mau tidur, sedang dikamar mandi (ingat Archimedes dengan eureka-nya??), pas di kendaraan, atau disaat kita sedang sedih sekalipun.

Lalu, bagaimana jika ide itu datang disaat kita sedang tidak siap sama sekali?? Bukankah ia sulit datang namun mudah sekali pergi?? Bagaimana jika ide itu terbang padahal tidak ada jaminan ia kan kembali?? Apa yang harus kita lakukan??

Inilah pentingnya kita memiliki idea management. Manajemen Ide.

Emangnya ide bisa di-manajemen? Bukankah seperti yang telah diutarakan diatas, ia datang tak dijemput pulang tak diantar?? Bagaimana kita bisa me-manajemen ide ini??

Layaknya prinsip manajemen umum yang terdiri dari POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), maka prinsip-prinsip ini bisa juga kita terapkan terhadap ide-ide kita.

Planning. Perencanaan.
Merencanakan ide?? Bukankah hampir mustahil kita merencanakan hadirnya ide? Diwaktu kita butuh ia malah menghilang, disaat tidak memikirkannya malah dia datang dengan cepatnya. Tapi, karena sifatnya yang tak bisa ditebak inilah maka kita perlu perencanaan. Bukan merencanakan hadirnya, tapi justru merencanakan untuk membuat jaring perangkapnya. Menangkap ide sebanyak-banyaknya disaat ia datang, dan tak membiarkannya hilang sebelum masuk jaring perangkap kita.

Perlengkapan jaring-ide kita sederhana, cukup kertas dan pena. Catatlah ide sesegera mungkin ketika ia datang. Atas alasan ini, maka bawalah buku catatan dan pena kemanapun kita pergi, bahkan ketika buang air sekalipun. Percaya atau tidak, banyak sekali orang yang mendapatkan ide justru ketika ia sedang buang air, ketika pikirannya betul-betul fresh.

Di era gadget seperti sekarang ini, proses perencanaan ini menjadi lebih mudah, karena kita sudah sepaket dengan gadget. Dimanapun kita berada, gadget telah menjadi teman sejati yang tak pernah ketinggalan.... Lengket kayak perangko (eh, perangko udah gak jaman lagi ya...). Ketika ide datang, segera tuliskan ia. Jangan biarkan dia pergi, karena sulit sekali memanggilnya kembali.

Setelah perencanaan selesai, maka tahap berikutnya adalah Organizing. Mengorganisasikannya.

Jaring kita (buku atau gadget) berisi sejumlah ide yang beragam dan (harusnya) banyak jumlahnya. Ide-ide ini saling menumpuk satu dengan lainnya, dengan susunan yang tidak teratur. Maka langkah berikutnya adalah mengaturnya agar ketika kita butuh mudah untuk mendapatkannya kembali.

Jika ia berada dalam gadget, maka susunlah ia dalam folder-folder tertentu yang memudahkan kita mencarinya. Jika dalam bentuk catatan yang terpisah, maka kita bisa mengelompokkannya. Atau jika masih dalam buku umum, yang sulit untuk kita pisah-pisahkan kecuali harus menuliskannya ulang, maka kita bisa memberikan warna-warna tertentu, atau kode-kode khusus pada setiap catatan-catatan ide kita, agar kita mudah mencarinya ketika kita memerlukannya.

Pada tahap ini, tidak ada salahnya untuk menambah-nambahi catatan ide kita. Ide yang muncul tiba-tiba dan masuk ke jaring kita umumnya masih ide mentah dengan penulisan seadanya. Kita bisa menata kembali dengan menambahkan ide-ide baru pelengkap ide tersebut, atau sekedar merapikan catatannya.

Tahap berikutnya adalah Actuating. Pelaksanaan.
Sebuah ide tidak akan bermanfaat sebelum ia diaktualisasikan. Dilaksanakan. Tahap ini menjadi salah satu elemen penting dalam proses manajemen ide kita. Aturlah waktu-waktu khusus dimana kita membaca kembali semua ide-ide yang telah kita tulis. Dengan demikian kita bisa memanggil kembali ide-ide yang sempat muncul, dan melaksanakan point-point yang belum terealisir, atau membiarkannya tetap pada tempatnya untuk bisa kita manfaatkan dilain waktu.

Tahap terakhir adalah Controlling. Proses kontrol.
Selayaknya sebuah proses manajemen, maka proses kontrol pada manajemen ide ini memiliki peran yang tak kalah vital. Hasil dari kontrol ini menjadi masukan untuk proses-proses sebelumnya, baik itu perencanaan, pengorganisasian, maupun pelaksanaan.

Seperti apa proses kontrol terhadap ide-ide kita??
Kontrol yang kita lakukan mulai dari apakah proses perencanaan telah berjalan maksimal? Apakah jaring kita telah terisi penuh? Atau malah tidak ada isinya sama sekali? Tetap blank? Apa masalahnya? Ataukah kita kurang disiplin menuliskan ide-ide yang telah berkeliaran dalam benak kita??

Sudahkah kita mengatur catatan ide-ide kita? Membuatnya lebih mudah dan enak untuk ditemukan? Dan sudahkah kita laksanakan ide-ide itu? Manakah ide yang sudah kita laksanakan dan adakah ide yang belum atau memang belum bisa kita laksanakan??

Layaknya manajemen pada umumnya, tantangan terbesar dari manajemen ide ini adalah ke-konsisten-an kita melaksanakan prosesnya. Kita yang biasanya hidup tidak tertata, sangat sulit untuk merubah kebiasaan dan menjadikannya lebih teratur. Tapi jika kita sering mengalami penyakit “blank” diatas, maka tidak ada salahnya untuk mulai menerapkan manajemen ide ini.

Jadi,ketika kita sedang menulis, merancang pekerjaan, membuat perencanaan, atau pekerjaan-pekerjaan lain, lalu penyakit blank datang menyerang, maka buka-bukalah jaring ide kita, mungkin ada ide brilian yang terselip didalamnya, atau membaca ide-ide itu membuat kita memunculkan ide baru untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita.

Jadi, bukan jamannya lagi kita kehilangan ide. Sekarang, bukan kita yang menunggu ide, tapi ide-lah yang telah menunggu kita untuk dilaksanakan....

Selamat berkarya, dan ucapkan selamat tinggal pada penyakit BLANK.


PS:
Tulisan ini pun bagian ide yang telah terjaring lama, namun baru sempat saya realisasikan.

Kala Bohong Jadi Pilihan

Kala Bohong Jadi Pilihan

Bohong. Apakah anda pernah berbohong?? Kalau anda menjawab ya, maka anda senasib dengan saya. Tapi jika anda menjawab tidak, maka (mungkin) saat ini anda sedang menambah daftar kebohongan anda.... Hehe.... J

Pertanyaan berikutnya, apakah anda senang dibohongi?? Jika anda pernah, atau sering berbohong, mengapa anda tidak suka jika dibohongi??

Bohong dalam bahasa Arab disebut kizb, berasal dari kosakata “kaziba” yang merupakan lawan kata “sadaqa” yang berarti benar atau jujur. Pelaku bohong itu disebut “kazib”, dan apabila sering melakukan kebohongan maka pelakunya disebut “kazzab”.
Berdasarkan Dewan Pustaka dan Bahasa, definisi bohong adalah “percakapan yang berlainan daripada perkara yang sebenarnya”

Hampir (kalau tidak bisa dibilang semua) setiap kita pernah berbohong. Berbohong seolah telah menjadi “hal yang biasa”, sehingga terkadang kita tidak merasa salah lagi ketika melakukannya. Udah biasaaa......

Budaya berbohong telah merasuk hampir keseluruh sendi kehidupan kita. Ketika seorang anak pulang larut malam, karena tidak ingin dimarahi oleh orang tuanya, dibuatlah sebuah kebohongan. Seorang suami yang telat pulang kerumah, merancang sebuah kebohongan. Seorang teman yang tidak ingin ikut sebuah acara bersama teman lain, merancang sebuah acara bohongan. Hingga pimpinan sebuah negara, karena ingin melindungi kekuasaannya, pun membohongi rakyatnya.

Berbohong memiliki efek domino yang luar biasa. Setelah kita berbohong, maka kita akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama, demikian seterusnya kebohongan demi kebohongan untuk menutupi sebuah kebohongan.

Sedemikian sering kita menemukan kebohongan demi kebohongan, sehingga bohong seolah telah menjadi santapan wajib kita setiap hari, dan menjadikan kita demikian permisif terhadap kebohongan. Lalu, jika semua orang (pernah) berbohong, maka apakah bohong itu adalah sesuatu yang lumrah??

Padahal dalam qur’an sudah jelas hukum dari berbohong, Allah swt berfirman dalam QS.An-Nahl: 116. "dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung."

Rasulullah saw. bersabda,
اية المنافق ثلاث : اذا حدث كذب واذا وعد أخلف واذا ؤتمن خان
“Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).

Mari kita renungkan sejenak, kenapa kita mudah sekali berbohong? Bila setiap kita tidak suka dibohongi, lantas mengapa kita dengan ringannya berbohong kepada orang lain?? Salah siapakah sehingga kebohongan ini begitu membudaya??

Kalau kita coba renungkan lebih dalam, jawabannya adalah mungkin karena kita memang telah dididik sejak kecil untuk menjadi pembohong! Kita telah diajarkan berbohong sejak kecil, sehingga kita telah menjadi pembohong yang demikian mahir ketika kita dewasa. Kita telah diajarkan berbohong oleh orang tua kita, dan (bila anda telah menjadi orang tua) kita pun sedang mengajarkan anak kita menjadi seorang pembohong yang baik!!

Ah, mana mungkin orang tua mau mengajarkan anaknya menjadi pembohong?? Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi anak yang pembohong.......

Sadar atau tidak sadar, pendidikan berbohong memang telah kita terima sejak kecil.

Kita diajarkan berbohong dalam dua cara, secara LANGSUNG maupun TIDAK LANGSUNG.
Beberapa orang tua mengajarkan anaknya berbohong secara langsung. Ketika anak kita menerima telpon dari orang yang tidak kita harapkan, kita meminta mereka untuk berbohong dengan mengatakan kita tidak ada. Begitupun bila ada tamu yang tidak ingin kita temui, berbohong adalah solusinya. Atau dalam kondisi lain, kita mungkin pernah mengatakan kepada anak: “jangan bilang ibu ya, jika bla... bla... bla...”, atau “kalau ayah pulang, jangan kasih tahu ayah ya kalau bla... bla... bla...”, atau “nanti kalau sampai dirumah nenek, jangan bilang ya kalau kita bla... bla... bla....”

Sengaja atau tidak, perkataan-perkataan tadi akan mengendap dalam otak sang anak, memberikan dia sebuah kesimpulan: tidak apa-apa berbohong, yang penting aman.....

Kebohongan langsung lainnya yang sering kita praktekkan adalah, cara kita mendiamkan anak yang sedang rewel.... "awas lho, nanti ditangkap polisi", "ayo diam..., awas ada kucing....", atau "udah diam, nanti ayah/ibu belikan ini dan itu". Padahal janji yang terucap hanya sekedar untuk mendiamkan sang anak tak pernah terpenuhi. 

Cara yang kedua, kita mendidik anak berbohong secara TIDAK LANGSUNG.
Apakah anda pernah marah?? Atau kita pernah dimarahi oleh orang tua kita ketika kita melakukan kesalahan?? Ketika kita memarahi seorang anak ketika dia melakukan sebuah kesalahan, maka sesungguhnya kita sedang mendidik dia untuk menjadi seorang pembohong. Secara alami, dia akan belajar berbohong untuk menutupi kesalahannya, hanya agar supaya dia tidak dimarahi. Padahal, melakukan kesalahan adalah sangat manusiawi, dan sejauh dalam batas kewajaran dan bukan sebuah kesengajaan, ia adalah hal yang sangat wajar.

Memarahi anak ketika ia berbuat salah, menjadikan sang anak tidak berani jujur, dan tidak gentle untuk mengakui kesalahannya. Alibi, alasan, dan kebohongan,menjadi senjata untuk menutupi kesalahan.

Alangkah lebih bijak jika kita berani memuji anak yang telah melakukan sebuah kesalahan tapi berani mengakuinya. Kesalahannya tetaplah sebuah kesalahan, dan ini harus kita perbaiki, tapi sikap gentle-nya untuk mengakui kesalahan adalah sebuah lentera yang akan kita padamkan dengan kemarahan kita.

Kebohongan juga hadir ketika kita lebih menghargai hasil ketimbang proses. Kita akan sangat bangga ketika anak kita menjadi juara kelas, dan “sedih” bila nilai mereka jelek. Kita begitu terfokus pada hasil, dengan tidak menghargai proses usaha mereka. Maka, jangan heran ketika anak-anak tanpa rasa bersalah menyontek ketika ujian, dan segala usaha curang lainnya.

Berfokus kepada hasil, dan bukannya proses, menjadikan kita terbiasa menghalalkan segala cara untuk selalu yang terbaik. Anak-anak berbuat apapun untuk tampil hebat didepan orang tuanya. Parahnya, tuntutan yang tinggi agar anaknya selalu menjadi yang terbaik, seolah menjadi pupuk yang sangat manjur untuk menumbuh-kembangkan sikap ketidak-jujuran.

Dengan segala "dukungan" lingkungan inilah, maka bohong sering menjadi pilihan.

Jadi, jika anda mendapati anak anda sedang berbohong, maka segeralah introspeksi kedalam, karena bisa jadi kitalah yang telah mendidik mereka tuk jadi seorang pembohong.....
Mari budayakan berkata jujur..... Karena jujur itu penuh manfaat!