Showing posts with label Membangun akhlak. Show all posts
Showing posts with label Membangun akhlak. Show all posts

Adab Berbicara, Mendengar, dan Mengemukakan Pendapat

Salah satu sumber masalah terbesar di dunia adalah masalah humaniora. Masalah komunikasi verbal antar manusia. Mulai dari masalah keluarga, bertetangga, hingga perang antar negara, disebabkan oleh masalah yang satu ini.
Berdiskusi yang islami

Padahal, Islam telah memberikan tuntunannya dalam berbicara. Dengannya, hidup akan lebih indah. Beberapa tuntunan itu antara lain: 

1. Seorang muslim terjaga lidahnya dari perkataan yang buruk. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar, tidak terlalu cepat tidak juga terlalu lambat. Dalam hadits dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda:

“Bahwasanya perkataan Rasulullah saw. itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, karena dikhawatirkan akan membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai Abu Abdurrahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, 

dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)

6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

ADAB MENDENGAR

1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)

2. Tidak memotong/memutus pembicaraan

3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)

4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.

5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU

1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian

2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal

3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara

4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih

5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit

6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah

7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat

8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi

9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya

10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati. 

Demikianlah tuntunan Islam dalam berbicara, mendengar, dan mengemukakan pendapat. Semoga ada manfaatnya.
Wallahu a'lam bish-shawab

Kala Bohong Jadi Pilihan

Kala Bohong Jadi Pilihan

Bohong. Apakah anda pernah berbohong?? Kalau anda menjawab ya, maka anda senasib dengan saya. Tapi jika anda menjawab tidak, maka (mungkin) saat ini anda sedang menambah daftar kebohongan anda.... Hehe.... J

Pertanyaan berikutnya, apakah anda senang dibohongi?? Jika anda pernah, atau sering berbohong, mengapa anda tidak suka jika dibohongi??

Bohong dalam bahasa Arab disebut kizb, berasal dari kosakata “kaziba” yang merupakan lawan kata “sadaqa” yang berarti benar atau jujur. Pelaku bohong itu disebut “kazib”, dan apabila sering melakukan kebohongan maka pelakunya disebut “kazzab”.
Berdasarkan Dewan Pustaka dan Bahasa, definisi bohong adalah “percakapan yang berlainan daripada perkara yang sebenarnya”

Hampir (kalau tidak bisa dibilang semua) setiap kita pernah berbohong. Berbohong seolah telah menjadi “hal yang biasa”, sehingga terkadang kita tidak merasa salah lagi ketika melakukannya. Udah biasaaa......

Budaya berbohong telah merasuk hampir keseluruh sendi kehidupan kita. Ketika seorang anak pulang larut malam, karena tidak ingin dimarahi oleh orang tuanya, dibuatlah sebuah kebohongan. Seorang suami yang telat pulang kerumah, merancang sebuah kebohongan. Seorang teman yang tidak ingin ikut sebuah acara bersama teman lain, merancang sebuah acara bohongan. Hingga pimpinan sebuah negara, karena ingin melindungi kekuasaannya, pun membohongi rakyatnya.

Berbohong memiliki efek domino yang luar biasa. Setelah kita berbohong, maka kita akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama, demikian seterusnya kebohongan demi kebohongan untuk menutupi sebuah kebohongan.

Sedemikian sering kita menemukan kebohongan demi kebohongan, sehingga bohong seolah telah menjadi santapan wajib kita setiap hari, dan menjadikan kita demikian permisif terhadap kebohongan. Lalu, jika semua orang (pernah) berbohong, maka apakah bohong itu adalah sesuatu yang lumrah??

Padahal dalam qur’an sudah jelas hukum dari berbohong, Allah swt berfirman dalam QS.An-Nahl: 116. "dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung."

Rasulullah saw. bersabda,
اية المنافق ثلاث : اذا حدث كذب واذا وعد أخلف واذا ؤتمن خان
“Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).

Mari kita renungkan sejenak, kenapa kita mudah sekali berbohong? Bila setiap kita tidak suka dibohongi, lantas mengapa kita dengan ringannya berbohong kepada orang lain?? Salah siapakah sehingga kebohongan ini begitu membudaya??

Kalau kita coba renungkan lebih dalam, jawabannya adalah mungkin karena kita memang telah dididik sejak kecil untuk menjadi pembohong! Kita telah diajarkan berbohong sejak kecil, sehingga kita telah menjadi pembohong yang demikian mahir ketika kita dewasa. Kita telah diajarkan berbohong oleh orang tua kita, dan (bila anda telah menjadi orang tua) kita pun sedang mengajarkan anak kita menjadi seorang pembohong yang baik!!

Ah, mana mungkin orang tua mau mengajarkan anaknya menjadi pembohong?? Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi anak yang pembohong.......

Sadar atau tidak sadar, pendidikan berbohong memang telah kita terima sejak kecil.

Kita diajarkan berbohong dalam dua cara, secara LANGSUNG maupun TIDAK LANGSUNG.
Beberapa orang tua mengajarkan anaknya berbohong secara langsung. Ketika anak kita menerima telpon dari orang yang tidak kita harapkan, kita meminta mereka untuk berbohong dengan mengatakan kita tidak ada. Begitupun bila ada tamu yang tidak ingin kita temui, berbohong adalah solusinya. Atau dalam kondisi lain, kita mungkin pernah mengatakan kepada anak: “jangan bilang ibu ya, jika bla... bla... bla...”, atau “kalau ayah pulang, jangan kasih tahu ayah ya kalau bla... bla... bla...”, atau “nanti kalau sampai dirumah nenek, jangan bilang ya kalau kita bla... bla... bla....”

Sengaja atau tidak, perkataan-perkataan tadi akan mengendap dalam otak sang anak, memberikan dia sebuah kesimpulan: tidak apa-apa berbohong, yang penting aman.....

Kebohongan langsung lainnya yang sering kita praktekkan adalah, cara kita mendiamkan anak yang sedang rewel.... "awas lho, nanti ditangkap polisi", "ayo diam..., awas ada kucing....", atau "udah diam, nanti ayah/ibu belikan ini dan itu". Padahal janji yang terucap hanya sekedar untuk mendiamkan sang anak tak pernah terpenuhi. 

Cara yang kedua, kita mendidik anak berbohong secara TIDAK LANGSUNG.
Apakah anda pernah marah?? Atau kita pernah dimarahi oleh orang tua kita ketika kita melakukan kesalahan?? Ketika kita memarahi seorang anak ketika dia melakukan sebuah kesalahan, maka sesungguhnya kita sedang mendidik dia untuk menjadi seorang pembohong. Secara alami, dia akan belajar berbohong untuk menutupi kesalahannya, hanya agar supaya dia tidak dimarahi. Padahal, melakukan kesalahan adalah sangat manusiawi, dan sejauh dalam batas kewajaran dan bukan sebuah kesengajaan, ia adalah hal yang sangat wajar.

Memarahi anak ketika ia berbuat salah, menjadikan sang anak tidak berani jujur, dan tidak gentle untuk mengakui kesalahannya. Alibi, alasan, dan kebohongan,menjadi senjata untuk menutupi kesalahan.

Alangkah lebih bijak jika kita berani memuji anak yang telah melakukan sebuah kesalahan tapi berani mengakuinya. Kesalahannya tetaplah sebuah kesalahan, dan ini harus kita perbaiki, tapi sikap gentle-nya untuk mengakui kesalahan adalah sebuah lentera yang akan kita padamkan dengan kemarahan kita.

Kebohongan juga hadir ketika kita lebih menghargai hasil ketimbang proses. Kita akan sangat bangga ketika anak kita menjadi juara kelas, dan “sedih” bila nilai mereka jelek. Kita begitu terfokus pada hasil, dengan tidak menghargai proses usaha mereka. Maka, jangan heran ketika anak-anak tanpa rasa bersalah menyontek ketika ujian, dan segala usaha curang lainnya.

Berfokus kepada hasil, dan bukannya proses, menjadikan kita terbiasa menghalalkan segala cara untuk selalu yang terbaik. Anak-anak berbuat apapun untuk tampil hebat didepan orang tuanya. Parahnya, tuntutan yang tinggi agar anaknya selalu menjadi yang terbaik, seolah menjadi pupuk yang sangat manjur untuk menumbuh-kembangkan sikap ketidak-jujuran.

Dengan segala "dukungan" lingkungan inilah, maka bohong sering menjadi pilihan.

Jadi, jika anda mendapati anak anda sedang berbohong, maka segeralah introspeksi kedalam, karena bisa jadi kitalah yang telah mendidik mereka tuk jadi seorang pembohong.....
Mari budayakan berkata jujur..... Karena jujur itu penuh manfaat!