Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Penting: Bagaimana Menjelaskan Tentang Mimpi Basah Kepada Anak Laki-laki

Memiliki anak, baik laki-laki maupun perempuan, memang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Salah satunya adalah, bagaimana pendidikan seks buat sang buah hati. Menyiapkan anak memasuki usia pubernya. Terkadang, dialog antara orang tua dan anak terkait hal ini mengalami jalan buntu, utamanya antara ayah dan anak laki-lakinya. 

Seringnya, yang lebih disiapkan oleh orang tua (khususnya ibu) adalah mempersiapkan dan mendialogkan dengan anak perempuan untuk menghadapi menstruasi pertamanya. Bagaimana dengan anak laki-laki?? Mimpi basah yang menjadi tanda pubertasnya (aqil baligh) seringnya berlalu dengan sendirinya. Anak tidak mengerti, dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Sedang orang tua (khususnya ayah) cenderung tidak peduli, dan berharap sang anak akan mengerti dengan sendirinya suatu saat nanti.

Padahal, apa yang terjadi? Sang anak yang telah mimpi basah menjadi tidak sah sholatnya. Orang tua sering mendorong anaknya untuk sholat, dan terjaga sholat 5 waktu-nya, padahal mereka tidak tahu bahwa anak lelakinya dalam keadaan junub. 
Jadi, sholat mereka tidak sah. Selama berapa lama? Sehari? Sebulan? Setahun? Bahkan bisa bertahun-tahun, hingga sang anak mengetahui cara mandi besar (mandi wajib). Tanggung jawab siapa sholat bertahun-tahun sang anak yang ternyata menjadi tidak sah.
Ah, "Tidak ada dosa bagi yang tidak tahu". Betul, bagi sang anak memang iya. Sholatnya "bisa jadi" dianggap sah karena ketidak-tahuannya. Tapi bagaimana dengan tanggung jawab orang tuanya, yang tahu tapi tidak memberitahukannya??
Belum lagi ancaman bahaya pornografi yang semakin lama semakin mengkhawatirkan.

Masalahnya, bagaimana cara menyampaikan masalah "mimpi basah" kepada anak yang belum baligh? Kapan waktu yang tepat untuk menyampaikannya? 
Sebuah tulisan dari bunda Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) kiranya menjadi sedikit penjelas terhadap seluruh ayah yang hingga saat ini tidak atau belum pernah berdiskusi dengan anak laki-lakinya mengenai masalah ini. Penting juga disimpan untuk para calon ayah, untuk mempersiapkan dirinya menjadi orang tua.

Menyiapkan anak laki-laki mimpi basah ( Aqil Baligh).

Dear Parents…
Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan sasaran tembak bisnis pornografi internasional ?
Mengapa demikian ?
Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games, PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat dan akrab dengan dunia anak-anak.

Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media- media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20 kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi !

Dear Parents…
Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki seksualitas yang sehat, lurus dan benar. Memang banyak kendala yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya, kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.

Jadi, salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk membicarakannya kepada mereka. 
Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7 tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya, dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah, ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah dan tidak pernah mengalaminya bukan ? 
Namun, bila karena satu hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah yang harus mengambil tanggung jawab ini. 

 Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah

 Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih dahulu alat-alatnya :

- Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.

- Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU.

Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan :

- Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi mereka akan memasuki masa puber / baligh.
Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya.. Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih. Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia memasuki masa puber / baligh”

- Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu.
Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.

- Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh, gunakan the power of touch.
Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala anak laki-laki yang belum baligh.
Hal ini dapat menumbuhkan keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka tidak akan mau kita sentuh.

- Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya: nak, buah hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.

- Sampaikan kepada anak kita Tentang mimpi basah & mani

• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.

• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah, tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.

• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).Dalam Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar / mandi junub, yaitu :
1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.
2. Cuci kedua tangan.
3. Berniat untuk bersuci
4. Berwudhu.
5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga seluruh anggota tubuh terkena air.
6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.

• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.

Tentang madzi

• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).

• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan, mencuci tangan lalu berwudhu.

• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.

• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan

Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita sampaikan dengan baik.
Selamat mencoba …


Adab Berbicara, Mendengar, dan Mengemukakan Pendapat

Salah satu sumber masalah terbesar di dunia adalah masalah humaniora. Masalah komunikasi verbal antar manusia. Mulai dari masalah keluarga, bertetangga, hingga perang antar negara, disebabkan oleh masalah yang satu ini.
Berdiskusi yang islami

Padahal, Islam telah memberikan tuntunannya dalam berbicara. Dengannya, hidup akan lebih indah. Beberapa tuntunan itu antara lain: 

1. Seorang muslim terjaga lidahnya dari perkataan yang buruk. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar, tidak terlalu cepat tidak juga terlalu lambat. Dalam hadits dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda:

“Bahwasanya perkataan Rasulullah saw. itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, karena dikhawatirkan akan membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai Abu Abdurrahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, 

dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)

6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

ADAB MENDENGAR

1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)

2. Tidak memotong/memutus pembicaraan

3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)

4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.

5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU

1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian

2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal

3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara

4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih

5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit

6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah

7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat

8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi

9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya

10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati. 

Demikianlah tuntunan Islam dalam berbicara, mendengar, dan mengemukakan pendapat. Semoga ada manfaatnya.
Wallahu a'lam bish-shawab

Kala Bohong Jadi Pilihan

Kala Bohong Jadi Pilihan

Bohong. Apakah anda pernah berbohong?? Kalau anda menjawab ya, maka anda senasib dengan saya. Tapi jika anda menjawab tidak, maka (mungkin) saat ini anda sedang menambah daftar kebohongan anda.... Hehe.... J

Pertanyaan berikutnya, apakah anda senang dibohongi?? Jika anda pernah, atau sering berbohong, mengapa anda tidak suka jika dibohongi??

Bohong dalam bahasa Arab disebut kizb, berasal dari kosakata “kaziba” yang merupakan lawan kata “sadaqa” yang berarti benar atau jujur. Pelaku bohong itu disebut “kazib”, dan apabila sering melakukan kebohongan maka pelakunya disebut “kazzab”.
Berdasarkan Dewan Pustaka dan Bahasa, definisi bohong adalah “percakapan yang berlainan daripada perkara yang sebenarnya”

Hampir (kalau tidak bisa dibilang semua) setiap kita pernah berbohong. Berbohong seolah telah menjadi “hal yang biasa”, sehingga terkadang kita tidak merasa salah lagi ketika melakukannya. Udah biasaaa......

Budaya berbohong telah merasuk hampir keseluruh sendi kehidupan kita. Ketika seorang anak pulang larut malam, karena tidak ingin dimarahi oleh orang tuanya, dibuatlah sebuah kebohongan. Seorang suami yang telat pulang kerumah, merancang sebuah kebohongan. Seorang teman yang tidak ingin ikut sebuah acara bersama teman lain, merancang sebuah acara bohongan. Hingga pimpinan sebuah negara, karena ingin melindungi kekuasaannya, pun membohongi rakyatnya.

Berbohong memiliki efek domino yang luar biasa. Setelah kita berbohong, maka kita akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama, demikian seterusnya kebohongan demi kebohongan untuk menutupi sebuah kebohongan.

Sedemikian sering kita menemukan kebohongan demi kebohongan, sehingga bohong seolah telah menjadi santapan wajib kita setiap hari, dan menjadikan kita demikian permisif terhadap kebohongan. Lalu, jika semua orang (pernah) berbohong, maka apakah bohong itu adalah sesuatu yang lumrah??

Padahal dalam qur’an sudah jelas hukum dari berbohong, Allah swt berfirman dalam QS.An-Nahl: 116. "dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung."

Rasulullah saw. bersabda,
اية المنافق ثلاث : اذا حدث كذب واذا وعد أخلف واذا ؤتمن خان
“Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).

Mari kita renungkan sejenak, kenapa kita mudah sekali berbohong? Bila setiap kita tidak suka dibohongi, lantas mengapa kita dengan ringannya berbohong kepada orang lain?? Salah siapakah sehingga kebohongan ini begitu membudaya??

Kalau kita coba renungkan lebih dalam, jawabannya adalah mungkin karena kita memang telah dididik sejak kecil untuk menjadi pembohong! Kita telah diajarkan berbohong sejak kecil, sehingga kita telah menjadi pembohong yang demikian mahir ketika kita dewasa. Kita telah diajarkan berbohong oleh orang tua kita, dan (bila anda telah menjadi orang tua) kita pun sedang mengajarkan anak kita menjadi seorang pembohong yang baik!!

Ah, mana mungkin orang tua mau mengajarkan anaknya menjadi pembohong?? Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi anak yang pembohong.......

Sadar atau tidak sadar, pendidikan berbohong memang telah kita terima sejak kecil.

Kita diajarkan berbohong dalam dua cara, secara LANGSUNG maupun TIDAK LANGSUNG.
Beberapa orang tua mengajarkan anaknya berbohong secara langsung. Ketika anak kita menerima telpon dari orang yang tidak kita harapkan, kita meminta mereka untuk berbohong dengan mengatakan kita tidak ada. Begitupun bila ada tamu yang tidak ingin kita temui, berbohong adalah solusinya. Atau dalam kondisi lain, kita mungkin pernah mengatakan kepada anak: “jangan bilang ibu ya, jika bla... bla... bla...”, atau “kalau ayah pulang, jangan kasih tahu ayah ya kalau bla... bla... bla...”, atau “nanti kalau sampai dirumah nenek, jangan bilang ya kalau kita bla... bla... bla....”

Sengaja atau tidak, perkataan-perkataan tadi akan mengendap dalam otak sang anak, memberikan dia sebuah kesimpulan: tidak apa-apa berbohong, yang penting aman.....

Kebohongan langsung lainnya yang sering kita praktekkan adalah, cara kita mendiamkan anak yang sedang rewel.... "awas lho, nanti ditangkap polisi", "ayo diam..., awas ada kucing....", atau "udah diam, nanti ayah/ibu belikan ini dan itu". Padahal janji yang terucap hanya sekedar untuk mendiamkan sang anak tak pernah terpenuhi. 

Cara yang kedua, kita mendidik anak berbohong secara TIDAK LANGSUNG.
Apakah anda pernah marah?? Atau kita pernah dimarahi oleh orang tua kita ketika kita melakukan kesalahan?? Ketika kita memarahi seorang anak ketika dia melakukan sebuah kesalahan, maka sesungguhnya kita sedang mendidik dia untuk menjadi seorang pembohong. Secara alami, dia akan belajar berbohong untuk menutupi kesalahannya, hanya agar supaya dia tidak dimarahi. Padahal, melakukan kesalahan adalah sangat manusiawi, dan sejauh dalam batas kewajaran dan bukan sebuah kesengajaan, ia adalah hal yang sangat wajar.

Memarahi anak ketika ia berbuat salah, menjadikan sang anak tidak berani jujur, dan tidak gentle untuk mengakui kesalahannya. Alibi, alasan, dan kebohongan,menjadi senjata untuk menutupi kesalahan.

Alangkah lebih bijak jika kita berani memuji anak yang telah melakukan sebuah kesalahan tapi berani mengakuinya. Kesalahannya tetaplah sebuah kesalahan, dan ini harus kita perbaiki, tapi sikap gentle-nya untuk mengakui kesalahan adalah sebuah lentera yang akan kita padamkan dengan kemarahan kita.

Kebohongan juga hadir ketika kita lebih menghargai hasil ketimbang proses. Kita akan sangat bangga ketika anak kita menjadi juara kelas, dan “sedih” bila nilai mereka jelek. Kita begitu terfokus pada hasil, dengan tidak menghargai proses usaha mereka. Maka, jangan heran ketika anak-anak tanpa rasa bersalah menyontek ketika ujian, dan segala usaha curang lainnya.

Berfokus kepada hasil, dan bukannya proses, menjadikan kita terbiasa menghalalkan segala cara untuk selalu yang terbaik. Anak-anak berbuat apapun untuk tampil hebat didepan orang tuanya. Parahnya, tuntutan yang tinggi agar anaknya selalu menjadi yang terbaik, seolah menjadi pupuk yang sangat manjur untuk menumbuh-kembangkan sikap ketidak-jujuran.

Dengan segala "dukungan" lingkungan inilah, maka bohong sering menjadi pilihan.

Jadi, jika anda mendapati anak anda sedang berbohong, maka segeralah introspeksi kedalam, karena bisa jadi kitalah yang telah mendidik mereka tuk jadi seorang pembohong.....
Mari budayakan berkata jujur..... Karena jujur itu penuh manfaat!