Aksi Damai Bela Qur'an 4 November 2016; Demo Paling Besar dan Bermartabat

Aksi Bela Qur'an jilid II tanggal 4 November 2016 menjadi sebuah fenomena. Ini adalah aksi yang disebut-sebut sebagai aksi terbesar dalam sejarah Indonesia, bahkan melebihi jumlah aksi reformasi 1998. Namun demikian, aksi ini tetap dilakukan dengan amat santun, beradab, dan bermartabat.

Seorang aktivis Tionghoa, Zeng Wei Jian alias Ken Ken yang ikut dalam aksi Bela Qur'an II ini menuturkan bagaimana kondisi dan situasi saat aksi berlangsung. Bersama Koordinator Forum Rakyat Tionghoa, Lieus Sungkharisma, inilah catatan lengkapnya.

KEMELUT 4 NOVEMBER

by Zeng Wei Jian

Zeng Wei Jian terkait aksi 4 November
Zeng Wei Jian alias Ken Ken

PART I : Situasi Jakarta 4 November Pagi Hari


Tanggal 4 November, ada kemelut politik di Jakarta. Ibukota lumpuh. Sejuta umat menyatu dalam ghirah. Mereka menuntut keadilan ditegakan. Di hari ini, Indonesia terasa sebagai negeri tanpa presiden.

Dini hari sebelumnya, Lieus Sungkharisma berkeliling Masjid Istiqlal. Dia bilang, area masjid dipadati umat. Sekitar jam 9 pagi, saya menelusuri Jln. Daan Mogot. Masuk iring-iringan demonstran dari arah Tangerang. Ada laskar FPI, PETA dan ormas-ormas lain.

Lalu-lintas lancar. Tidak macet seperti biasanya. Toko, kantor, bengkel, bank-bank, nyaris tutup semua. Masyarakat berdiri di pinggir jalan, menyaksikan iring-iringan demonstran. Polisi terlihat di beberapa titik. Kabarnya, ada 18 ribu personil gabungan disiagakan hari ini.

Rombongan demonstran juga tampak dari arah Stasiun Beos ke Silang Monas. Tiga truk polisi warna hitam diparkir di depan Lindeteves Trade Center.

Saya dan Lieus Sengkharisma menuju Starbuck Hayam Wuruk. Kami menunggu beberapa pemuda dari Gerakan Muda Budhis Indonesia (GEMABUDHI) dan Koh Asun. Mereka nyatakan ikut aksi "Mengawal Fatwa MUI".

Koh Asun adalah Tionghoa Kristen ex Ahoker. Kemarin malam, kami ngobrol di Spring Hill. Tema diskusinya seputar mengapa Ahok berbahaya bagi harmoni Indonesia dan alasan objektif Ahok tak patut didukung. Yusuf Hamka (Komisaris Indosiar) dan sejumlah Ahoker turut hadir.

Kami elaborasi perilaku kebijakan, manuver politik, dan Ahok's verbal abuse. Alhasil, Koh Asun nyatakan bergabung dalam aksi "tolak penista agama" hari ini.

Tadi pagi, sebelum kami bergerak, ada warga Glodok beretnis Tionghoa menghampiri Lieus Sungkharisma. Lelaki setengah baya itu mengungkap kegundahannya terhadap perilaku Ahok. Dia kuatir ketegangan sosial (yang dipicu Ahok) bisa meluas jadi gerakan hatze anti Tionghoa.

"Dia (Ahok) sih enak. Bisa kabur. Kita yang di sini bisa jadi korban kelakuannya," kata si engkoh.

Kami berusaha meyakinkan dia, bahwa aksi besar hari ini adalah aksi damai. Ini aksi umat Islam, bukan aksi preman. Jadi tidak akan mengarah pada chaoz massal.

Saya berkesimpulan bahwa proses pencitraan Ahok telah gagal. Sebelumnya cukup sukses mengilusi 70% Tionghoa dan 95% Kristen. Namun kebusukan bangkai pada akhirnya tetap akan tercium.

Ex ahoker di Spring Hill sontak speechless saat dijelaskan soal penggusuran berkedok "relokasi" Ahok. Mereka tidak sadar bila penggusuran Ahok berdampak pada pemusnahan sumber ekonomi warga. Alih-alih mensejahterakan, "relokasi Ahok" ini memiskinkan ribuan KK.

Saya kira itu jahat.

PART II : Jamaah Aksi Bela Qur'an Berkumpul

Jutaan masa yang berkumpul bergerak menuju istana negara
Lautan Masa Membanjiri Bundaran HI

Jelang sholat Jum'at, Sarinah dan Patung Kuda sudah penuh massa. Ada rombongan aktifis Indonesia Bergerak, Perempuan NKRI, Warga Aquarium, Punk Muslim, Irena Center dan Mualaf, ILUNI, GPMI, Forkabi, PERSIS, FPI, Hamas, Anshorusyariah dan ratusan ribu mujahid yang datang dari seluruh penjuru Indonesia seperti Aceh, Sumbar, Medan, Palembang, Kalimantan, Madura, Makasar, Jawa Tengah, Tanjung Balai dan sebagainya.

Neno Warisman datang bersama Tim "Anak Sungai Jakarta" di sana. Mereka adalah warga korban penggusuran Ahok dari Kampung Kendi dan wilayah bantaran sungai. Mereka bawa sapu untuk membersihkan area unras dan sebagai bahasa simbol "warga Jakarta sapu Ahok".

Di sisi lain, para mujahid juga berkumpul di Masjid Istiqlal.

Di sana, sejak jam 10 pagi pimpinan GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) MUI seperti Habib Rizieq, Ust Bachtiar Nasir, Ust Zaitun Rasmin, Ust Abdullah Syafii dsb memberikan pengarahan terbatas. Ust Arifin Ilham dan Aa Gym juga ada di sana. Pesan mereka: ini AKSI DAMAI dan harus menunjukkan akhlaqul karimah.

Selepas sholat Jumat, para mujahid mulai bergerak. Bunderan HI sampai Merdeka Barat dipadati satu juta pejuang. Laki dan perempuan. Masjid Istiqlal baru kosong di atas jam 3 sore. Diperkirakan, ada 200 ribu mujahid di Masjid Istiqlal saja. Jumlah total massa yang menyatu dalam ghirah mencapai 2,3 juta mujahid.

Di antara jutaan mujahid itu ada seorang kakek yang datang dari Malang menggunakan sepeda motor. Ada juga mujahid yang khusus datang mengikut aksi akbar ini dari Australia. Seorang mujahid Aceh menunda rencana pernikahan dan menggunakan dananya sebagai ongkos datang ke Jakarta, bergabung dalam barisan Umat Islam.

Imam Besar Masjid New York, Ust Shamsi Ali terbang dari Amerika dan ada di antara para pejuang muslim menuntut keadilan.

Gubernur NTB, Bpk Zainul Majdi memimpin mujahid Nusa Tenggara bergabung dalam aksi ini.

Selain tokoh seperti KH. Maaruf Amin, Prof Didin Hatidhuddin, Ust. Abu Jibril, Ust Bobby, Prof Nazaruddin Umar, Ust Ahmad Lutfi Fathullah, Ust. Tony Rosyid, Ust Haikal Hassan, Ust Erick Yusuf, Ust Fadlan Garamatan, Ribuan Ulama lain dan Jihadis, tampak pula figur nasional seperti Rahmawati Sukarnoputeri, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Kiwil, Lucky Hakim dll. Aksi ini juga diikuti sekelompok mujahid tunanetra. Mereka saling berpegang pundak di tengah barisan mujahid.

Makanan dan minuman berlimpah. Semua orang saling bantu. Seorang pedagang lontong sayur menggratiskan dagangannya untuk para mujahid. Artis Peggy Melati Sukma menyumbang 2500 bungkus konsumsi. Jaya Suprana memberi sumbangan air minum. Selain begitu banyak pengusaha muslim ikut memberi bantuan konsumsi. Semuanya menyatu dalam satu spirit ghirah.

Jadi, bila KPK mengaudit aliran dana aksi ini sesuai arahan Pdt. Gilbert maka hasilnya pasti nihil. Sebelum aksi ini digelar, Pdt Gilbert menyebut dugaan adanya aliran dana 100 Milyar. Saya kira itu tidak benar.

Hari ini udara cerah. Normal. Terik. Sumpah serapah Ahoker yang memohon agar Jakarta diguyur hujan badai hari ini tidak terkabul. Kabarnya, pihak istana menugasi 12 dukun untuk menurunkan hujan badai. BMKG sudah meramalkan Jakarta akan hujan. Nyatanya, alam berkehendak lain.

Saya dan rombongan kecil etnis Tionghoa mulai bergerak di waktu yang sama. Naik busway menuju patung kuda.

Busway bergerak pelan. Jalan Hayam Wuruk mulai dipenuhi mujahid. Iring-iringan warga dan Laskar Luar Batang bergerak lebih cepat. Mereka baru saja mendatangi kompleks rumah Ahok di Pantai Mutiara. Seratus anggota Brimob bersenjata menghadang mereka.

Dari arah Jln Gajahmada, rombongan umat juga mulai menyemut. Dari Jln Kejayaan, Ketapang dan sekitarnya. Mereka membawa bendera Merah-Putih. Banyak sekali. Mujahid dari Masjid Kebon Jeruk dan pendekar Betawi dari Kartini juga tampak.

Jl. Majapahit ditutup. Kita turun di Harmoni dan belok kiri. Anak-anak GEMAHBUDI menggelar aksi pungut sampah. Diikuti sejumlah Mujahid. Rombongan Mujahid terhenti di sepanjang Jl. Juanda. Ada Laskar Luar Batang dan HMI di sana. Rupanya Jl. Veteran III diblokade aparat. Ditutup benteng tameng.

Saya dan Lieus Sungkharisma berinisiatif mendatangi petugas. Saya sempat teriak, "Rakyat hendak lewat, harap polisi tidak menghalangi".

Sontak sejumlah mujahid merapat dan berkerumun di belakang. Ada yang berteriak "Allahuakbar...!"

Lieus Sungkharisma minta izin agar blokade tameng dibuka. Komandan jaga terbatah-batah. Dia bilang dia hanya jalankan instruksi. Dia diberi tugas mengalihkan arus massa agar berputar lewat Jl. Veteran II.

Tiba-tiba Kapolda dan Pangdam muncul. Rupanya kedua pucuk pimpinan ada di lokasi ini. Sontak kami terkejut dengan kemunculan kedua komandan ini. Air muka mereka tegang, kikuk sekalipun sangat simpatik dan ramah.

Saya bisa memahami bila kedua komandan ini dalam kondisi sangat cemas.

Mereka menghadapi situasi genting. Salah langkah atau meleset sedikit bisa bikin republik berdarah-darah dan bubar. Ini pengumpulan massa terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Lebih besar dari rapat raksasa di Lapangan Ikada (19 September 1945) yang dihadiri 300 ribu orang.

Penistaan Surat Al Maidah dan proses hukum tidak jelas memicu aksi besar ini. Bila situasi tak terkendali dan meletus huru-hara, maka Ahok dan Presiden Jokowi adalah pihak yang paling bertanggung-jawab.

Lin Che Wei diharuskan berjalan kaki dari Kantor Kemenko Perekonomian. Akibat ruas jalan sekitar Lapangan Banteng ditutup dan lautan manusia. Lin menggambarkan, tidak ada slogan politik dan suasana rasial anti ras dan agama. Dia puji aksi akbar ini. Komnas HAM menyebut aksi GNPF MUI ini sebagai aksi paling beradab. Laskar FPI menjaga taman secara ketat. Sehingga tidak ada taman rusak yang bisa dijadikan bahan fitnah oleh Ahoker. Mujahid dari Bandung membawa tanaman dan diberikan kepada Pemda DKI Jakarta.

Ternyata, di sela-sela aksi jutaan umat Islam, ada sepasang pengantin yang sudah menjadwalkan upacara pemberkatan tanggal 4 November di Gereja Katedral.

Para peserta aksi membuka jalan untuk pasangan pengantin ini. Kemungkinan besar, mereka adalah Ahoker. Mereka dilindungi. Tidak diusik.

Hanya wartawan media Metrotivi dan Kompas saja yang diusir.

PART III : Demonstrasi Berjalan Tertib dan Damai

Panggung orasi saat aksi damai
Panggung Orasi Aksi Damai 4 November

AM Fatwa, seorang demonstran, bilang aksi damai 4 November adalah pengumpulan massa terbesar. Tidak pernah terjadi di kemelut politik tahun 1966, 1978, 1998.

Tidak ada partai di Indonesia sanggup memobilisasi massa sebanyak aksi damai 4 November. Tidak PNI, PKI, Golkar, PDI-P. Apalagi partai gurem macam Nasdem. Hanya ghirah Islam yang sanggup menyatukan sedemikian banyak manusia.

Kerapatan massa membatasi jarak pandang. Saking asik membersihkan sampah, anak-anak GEMAHBUDI raib.

Kedua ruas Jalan Medan Merdeka Utara penuh sesak mujahid. Akses menuju istana diblokade tameng dan gulungan razor wire. Ada mobil water canon. Sejumlah ustad dan ulama berorasi di atas dua unit mobil komando. Suara loudspeakernya terlalu lemah.

Rombongan utama ada di sisi Medan Merdeka Barat. Di sana, para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat berorasi.

Negosiasi pertama diwakili 2 orang Juru Runding GNPF MUI yaitu; KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Razmin. Istana menugasi Menkopolhukam Wiranto menerima delegasi umat. Para mujahid meminta bertemu Presiden Jokowi. Perundingan pertama deadlock.

Beberapa hari sebelum aksi digelar, Presiden Jokowi sudah memberi sinyal tidak akan menemui para mujahid. Kali ini dia blusukan ke Bandara Soetta. Mendadak. Sepi manusia. Dia meninjau proyek kereta bandara.

Ahmad Dhani merasa Jokowi tidak menghargai para ulama dan habaib yang meminta audiensi. Bagi Dhani, para ulama adalah penerus Rasululloh. Saking marahnya, Dhani menyebut "Jokowi Anjing".

Juru Runding kembali mendatangi istana. Pihak istana kekeuh menawarkan Menko Polhukam. Negosiasi kedua pun deadlock. Jokowi tidak memberi sinyal akan kembali ke istana.

Seorang kawan yang berada di sisi Medan Barat mengirim foto-foto sniper yang katanya ditempatkan di atas gedung RRI. Ada beberapa jendela terbuka di Gedung Mahkamah Agung (MA).

Saya perlihatkan foto-foto sniper itu kepada beberapa mujahid, sambil menunjuk ke arah daun jendela yang terbuka. Kami pun tertawa. Para mujahid tampak rilex. Sekali pun kemungkinan bahaya terburuk selalu ada di depan mata. Kita tidak pernah tau, bagaimana reaksi aparat dan istana beberapa jam yang akan datang.

Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya mendatangi mobil barisan aksi di Medan Barat. Mereka datang menemui Habib Rizieq, menawarkan dialog dengan Wapres Jusuf Kalla.

Habib Rizieq Syihab bersedia memenuhi tawaran tersebut dengan "jaminan" agar Wapres JK bersedia memerintahkan Kapolri untuk menangkap Ahok hari ini juga.

Dialog juru runding dan Wapres JK berlangsung alot. Kali ini, KH Misbahul Anam ikut dalam rombongan juru runding.

Pertemuan selesai sekitar waktu magrib. Wapres JK menyatakan akan memproses Ahok secara cepat, tegas dan transparan. Dua minggu, kasus ini akan dituntaskan. Demikian kata Wapres JK.

Para mujahid tidak menerima hasil tersebut. Teriakan anti jokowi terdengar. Mereka sepakat bermalam di depan istana. Mujahid perempuan bergerak meninggalkan lokasi. Situasi mulai tegang. Wiranto sudah memberi warning batas waktu aksi sampai jam 6 petang.

Masjid MA dan tamannya dijadikan tempat sholat berjamaah. Mujahid berbaris rapih, tenang, antri air untuk berwudhu.

KH Arifin Ilham berinisiatif bernegosiasi langsung dengan Wapres JK.

MEMASUKI ba'da Isya, suara ledakan mulai terdengar di sisi Medan Barat. Seorang pemuda mujahid bilang itu petasan. Beberapa mujahid berseru "hati-hati provokasi".

Suara letupan terdengar lagi. Semakin lama suaranya semakin sering. Ruas jalan dibuka. Laskar FPI menerobos menuju ke depan barisan. Kami tau, kawan-kawan di sisi Medan Barat sedang ditembaki aparat. Suara dentumannya semakin keras dan semakin banyak.

Setiap kali dentuman keras terdengar, mujahid serempak berteriak "Allahuakbar".

Sekali lagi ruas jalan dibuka. Laskar FPI lain berlari merobos ke depan. Mata mulai terasa perih. Sekarang, semua orang telah membalurkan pasta gigi di bawah mata.

Seorang mujahid berkata, "Masa kita harus berkelahi dengan polisi. Mereka juga saudara-saudara kita. Hanya karena seorang Ahok."

Suara letupan keras terdengar lagi. "Allahuakbar" bergema. Kali ini, barisan serempak maju ke depan. Namun tertahan kembali. Ada suara-suara, "satu komando", "Tenang-tenang".

Saya tau teman-teman sedang ditembaki di sisi lain. Namun ini aksi damai. Para Ulama dan Habaib belum memberi instruksi ofensif. Semua orang menahan diri. Ust Arifin Ilham tertembak. Kami yang berada di sisi Utara menunggu giliran.

Sebuah peluru gas air mata tiba-tiba terjun bebas. Barisan mundur tiga langkah pelan. Tiba-tiba, kami diberondong gas air mata.

Saya ikut arus masuk halaman gedung MA. Bagian terbesar mundur ke belakang. Hujan gas air mata terus menerjang. Saya dan sejumlah mujahid berlindung di dalam pos satpam.

Gas air mata terus dilontarkan. Jumlahnya semakin banyak. Sebagian masuk ke halaman MA. Mata semakin perih, hidung terasa pedas dan dada mulai sakit. Sampai akhirnya, saya bilang kita harus keluar dari pos kecil itu. Entah, berapa puluh kali kami ditembaki gas air mata.

Saya masuk ke dalam ruang kerja komandan jaga MA. Lieus Sunghkarisma dan seorang pimpinan mujahid dari Kapuk sudah di sana.

Sejumlah kawan mengirim pesan WA. Rupa-rupanya, serangan gas air mata disiarkan di TV One. Kepanikan merebak.

PART IV : Aksi Damai Bela Qur'an Diwarnai Insiden

Polisi menembakkan meriam air pada para demonstran
Polisi Menembakkan Gas Air Mata dan Meriam Air

Sisi Medan Utara dibombardir, setelah sisi Medan Barat berhasil dipukul mundur dengan puluhan tembakan gas air mata. Sekitar 150 mujahid terluka. Bpk Syahrie Oemar Yunan tewas di rumah sakit akibat sesak nafas diserang gas air mata.

WA messenger kerap berbunyi. Sejumlah teman bertanya soal kondisi lapangan. Ada yang ngabarin kepanikan saudaranya yang tinggal di Pluit. Warga Tionghoa dihantui kecemasan. Mereka takut serangan keras pemerintah terhadap para mujahid meluas menjadi chaoz massal.

Saya berada di salah satu ruang kerja staf Mahkamah Agung. Di sana, kami diskusi, mengavaluasi dan membahas kemungkinan dampak dari pembubaran paksa tersebut.

Sebagian besar mujahid bergerak mundur menuju Gedung DPR. Sebagian lagi mundur ke Masjid Istiqlal. Bila ulama menginstruksikan mujahid kembali ke istana, maka show down belum berakhir.

TV One menayangkan slide tiga mobil terbakar, konferensi pers Wapres, interview Wiranto, dan arus massa di Bunderan HI.

Ada gambar Habib Rizieq di atas mobil komando yang bergerak mundur. Air mukanya sangat tenang menghadapi krisis. Tiada rasa ketakutan tergores di matanya. Sosoknya jadi sedemikian sejuk di tengah kemelut.

Saya kira, bila saat itu Habib Rizieq dan para ulama memberi instruksi agar mujahid kembali ke istana, maka the state of war tak terelakan. Harganya tinggi sekali. Jokowi bisa jatuh.

Saya lihat, sejuta mujahid yang menyemut di sekitar istana tidak gentar. Mereka tidak kembali karena patuh perintah ulama.

Ketika kondisi genting, Laskar FPI justru berlari ke depan. Menerobos barisan umat. Saya kira mereka siyap menjadi benteng hidup melindungi mujahid tak terlatih.

Edot mengirim pesan WA. Penjaringan rusuh. Ada gerakan "sweeping mobil". Sasarannya etnis Tionghoa. Sebuah mini market dijarah massa. Elshinta mengabarkan ada lima toko dirusak. Polisi kabur.

Ketua Pengurus Masjid Keramat Luar Batang, Bang Faisal, menginstruksikan warganya agar tidak keluar kampung dan ikut gerakan anarkis.

Saya dan Lieus Sungkharisma baru keluar gedung MA setelah dapet kepastian kabar dari Istiqlal. Ulama memberi instruksi aksi selesai untuk malam ini. Para mujahid diminta beristirahat.

Suasana di luar Gedung MA mencekam. Berantakan. Bau gas air mata samar-samar masih tercium. Sejumlah tentara dan polisi duduk beristirahat. Sebagian terkapar seperti orang-mati, akibat kelelahan.

Rombongan mujahid dan ulama diterima Komisi III dan Ketua MKD DPR-RI, Bpk Sufmi Dasco. Mereka berdialog sampai jam tiga pagi.

Supir taxi mengabarkan bahwa ada pengumpulan massa di sekitar Tanjung Duren. Dia marah melihat perilaku Ahok. Baginya, Ahok bisa memicu kerusuhan massal.

Polisi menutup akses Jl. Gajahmada menuju Pasar Ikan. Kami harus berputar masuk Jl. Ketapang. Akses jalan utama sekitar Glodok ditutup warga dan hansip. Mereka bilang, "Pasar Ikan rusuh".

Menurut Dharma Diani, warga Luar Batang, suara tembakan berlangsung sampai subuh. Polisi berhasil menangkap 15 orang penjarah. Bareskrim menyatakan aksi anarkis di Penjaringan tidak berkaitan dengan unras di istana.

Saya kira komunitas Tionghoa dan Nasrani perlu mengevaluasi keberpihakannya terhadap Ahok yang minim prestasi, arogan, bermulut kasar, dan memicu unras besar umat Islam. Kemelut ini tidak akan berakhir sebelum hukum dan keadilan ditegakkan.

THE END

Cara Memanah yang Baik dalam 9 Langkah Untuk Pemula


"Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah". (HR. Bukhari dan Muslim)

Memanah adalah olahraga yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan memanah disebutkan secara eksplisit bersama dengan berkuda dan berenang. Karena itulah, belajar memanah menjadi sunnah Nabi SAW.

Disamping itu, memanah sesungguhnya adalah olahraga yang menarik, menantang, sekaligus menyenangkan. Namun sangat disayangkan, olahraga ini masih tergolong eksklusif bagi masyarakat Indonesia. Tempat-tempat belajar memanah untuk umum masih sedikit, dan biaya untuk kursus-nya masih tergolong mahal.


Salah satu solusinya adalah kita bisa belajar sendiri dihalaman rumah, atau dilapangan dekat rumah. Namun satu syarat utamanya adalah, tempat yang dijadikan sarana belajar haruslah aman dan bukan tempat lalu-lalang manusia.


Cara Memanah yang Baik dalam 9 Langkah untuk Pemula

Untuk dapat memanah dengan baik, sesungguhnya tidaklah sulit. Namun yang menjadi tantangan utamanya adalah ketenangan, kesabaran, dan ketekunan untuk terus belajar. Untuk pemula seperti saya, maka minimal ada sembilan langkah agar kita bisa memanah dengan baik.

Teknik memanah bagi pemula, menurut Damiri, pada dasarnya ada sembilan langkah, yaitu :

1. Sikap Berdiri (stand
Sikap berdiri (stand), adalah “Sikap/posisi kaki pada lantai atau tanah. Sikap berdiri yang baik ditandai oleh: (1) titik berat badan ditumpu oleh kedua kaki/tungkai secara seimbang, (2) tubuh tegak, tidak condong ke depan atau ke belakang, ke samping kanan ataupun ke samping kiri.” Terdapat empat macam sikap kaki dalam panahan, yaitu open stand, square stand, close stand, dan oblique stand. Namun untuk pemula, maka yang kebanyakan dipakai adalah sikap square stand atau open stand

a.    Sejajar (square stand)

·    Posisi kaki pemanah terbuka selebar bahu dan sejajar dengan garis tembak.
·    Pemahan pemula disarankan untuk mempergunakan cara ini 1 sampai 2 tahun, selanjutnya baru beralih ke terbuka (open stance)
·    Cara berdiri sejajar mudah dilakukan untuk membuat garis lurus dengan sasaran, namun dalam hal ini perlu diingat, yaitu pada waktu menarik dan holding cenderung badan bergerak.

b.   Terbuka (open stand)
Posisi kaki pemanah membuat sudut 450 dengan garis tembak.
·    Pada saat menarik, posisi badan lebih stabil.
·    Posisi leher atau kepala akan lebih rileks dan pandangan pemanah lebih mudah untuk focus kedepan.
·    Cara berdiri seperti ini dianjurkan untuk pemanah lanjutan, katena pada tarikan penuh akan banyak space room pada bahu.

2. Memasang Ekor Panah (nocking 
Memasang ekor anak panah (nocking) adalah: “Gerakan menempatkan atau memasukkan ekor panah ke tempat anak panah (nocking point) pada tali dan menempatkan gandar (shaft) pada sandaran anak panah (arrow rest). Kemudian diikuti dengan menempatkan jari-jari penarik pada tali dan siap menarik tali.” Memasang ekor panah dalam olahraga panahan bisa menjadi fatal apabila salah penempatan baik terlalu atas ataupun terlalu bawah, maka perlu untuk memperhatikan kembali apakah anak panah yang dipasang sudah lurus tersandar di busur ataukah belum.

3. Mengangkat Lengan Busur (extend)
Mengangkat lengan busur (extend) adalah: “Gerakan mengangkat lengan penahan busur (bow arm) setinggi bahu dan tangan penarik tali siap untuk menarik tali.” 
Hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu lengan penahan busur rileks, tali ditarik oleh tiga jari yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Tali ditempatkan atau lebih tepatnya diletakkan pada ruas-ruas jari pertama, dan tekanan busur terhadap telapak tangan penahan busur ditengah-tengah titik V, yang dibentuk oleh ibu jari dan jari telunjuk (lengan penahan busur),

4. Menarik Tali Busur (drawing)

Cara menarik tali busur pada panahan dengan baik dan benar
Teknik menarik tali busur
Menarik tali busur (drawing) adalah: “Gerakan menarik tali sampai menyentuh dagu, bibir dan atau hidung. Kemudian dilanjutkan dengan menjangkarkan tangan penarik tali di dagu.”Ada tiga fase gerakan menarik, yaitu pre-draw, primary draw dan secondary draw.Pre-draw adalah gerakan tarikan awal. Pada saat ini sendi bahu, sendi siku dan sendi pergelangan tangan telah dikunci.Primary-draw atau tarikan utama adalah gerakan tarikan dari posisi pre-draw sampai tali menyentuh atau menempel dan sedikit menekan atau mengetat pada bagian dagu, bibir dan hidung dan berakhir pada posisi penjangkaran.Secondary-draw atau tarikan kedua adalah gerakan menahan tarikan pada posisi penjangkaran sampai melepas tali (release).Anggota tubuh yang dipergunakan untuk menarik adalah: jari, punggung telapak (wirst), dan lengan bawah. Ketiga bagian ini pada posisi lurus kemudian lengan atas selanjutnya bahu dan otot belakang. Kebanyakan pemanah-pemanah pemula hanya menggunakan jari-jari saja, kebanyakan mereka tidak menggunakan otot-otot yang seharusnya dipergunakan seperti yang sudah dijelaskan.

5. Menjangkarkan Lengan Penarik (anchoring)
Menjangkarkan lengan penarik (anchoring) adalah: “Gerakan menjangkarkan tangan penarik pada bagian dagu.” 
Hal yang harus diperhatikan, yaitu tempat penjangkaran tangan penarik tali harus tetap sama dan kokoh menempel di bawah dagu, dan harus memungkinkan terlihatnya bayangan tali pada busur (string alignment). Ada dua jenis penjangkaran, yaitu penjangkaran di tengah dan penjangkaran di samping. Pada penjangkaran di tengah, tali menyentuh pada bagian tengah dagu, bibir dan hidung serta tangan penarik menempel di bawah dagu. Pada penjangkaran di samping, tali menyentuh pada bagian samping dagu, bibir dan hidung, serta tangan penarik menempel di bawah dagu.

6. Menahan Sikap Panahan (tighten)
Menahan sikap panahan (tighten), adalah: "Suatu keadaan menahan sikap panahan beberapa saat, setelah penjangkaran dan sebelum anak panah dilepas". 
Pada saat ini otot-otot lengan penahan busur dan lengan penarik tali harus berkontraksi agar sikap panahan tidak berubah. Bersamaan dengan itu pemanah melakukan pembidikan. Jadi pada saat membidik, sikap pemanah harus tetap dipertahankan.

7. Membidik (Aiming)
Membidik (aiming) adalah: “Gerakan mengarahkan atau menempelkan titik alat pembidik (visir) pada tengah sasaran/titik sasaran.” 
Pada posisi membidik, posisi badan dari pemanah diharapkan tidak berubah, kemudian pemanah tidak hanya fokus kepada sasaran tetapi diutamakan pada teknik, dengan kondisi badan yang relaks fokus akan lebih baik.

8. Melepas Tali/Panah (release)
Melepas tali/panah (release) adalah: “Gerakan melepas tali busur, dengan cara merilekskan jari-jari penarik tali.” 
Ada dua cara melepaskan anak panah, yaitu dead release dan active release. Pada dead release setelah tali lepas, tangan penarik tali tetap menempel pada dagu seperti sebelum tali lepas. Pada active release, setelah tali lepas tangan penarik tali bergerak ke belakang menelusuri dagu dan leher pemanah.

Pelepasan anak panah yang baik diperlukan untuk memberikan kekuatan penuh dari tali terhadap panah dalam setiap melepaskan panah yang diinginkan dan untuk mencegah getaran tali yang tidak diperlukan, yang akan menyebabkan panah berputar. Kesalahan sedikit apapun pada saat melepaskan anak panah, mengakibatkan dampak yang sangat besar terhadap sasaran.

9. Menahan Sikap Panahan (after hold)
Menahan sikap panahan (after hold) adalah: “Suatu tindakan untuk mempertahankan sikap panahan sesaat (beberapa detik) setelah anak panah meninggalkan busur. Tindakan ini dimaksudkan untuk memudahkan pengontrolan gerak panahan yang dilakukan.”
Jadi, after hold adalah Tangan busur tetap terentang pada posisi semula lurus kearah sasaran dan tetap ditahan hingga dua detik setelah panah menyentuh permukaan sasaran.


Itulah 9 langkah untuk pemula agar bisa memanah dengan baik. Semoga bermanfaat.


Sumber:

www.archery.metu.edu.tr

Haywood, M Kathleen and Lewis F. Catherine Archery Steps to Succes

Membangun Bangsa Dengan Menumbuh-Kembangkan Semangat Nasionalisme Religius Pemuda Indonesia

Selamat Ulang tahun Republik Indonesia ke-70
HUT RI Ke-70

Kemajuan teknologi menjadikan dunia bagai sebuah desa yang besar (big village). Globalisasi membuat seolah tiada lagi sekat-sekat kedaerahan. Kecepatan arus informasi, perdagangan bebas (free trade area), asimilasi budaya, hingga semakin pendeknya waktu tempuh antar negara (bahkan antar benua) membawa konsekuensi lahirnya sebuah era dimana semangat kebangsaan semakin ketinggalan zaman.
Pemuda menjadi objek terdampak utama. Mereka yang lahir di era teknologi ini dihadapkan pada sebuah kondisi dimana hampir tidak ada lagi ruang-ruang sosialisasi nyata. Semuanya mulai tergantikan dengan pola komunikasi semu yang diwujudkan oleh seperangkat gadget. Facebook, Twitter, Instagram, dan sederet social media lainnya telah sukses menggusur pola hubungan tatap-muka. Whatsapp, BBM, Line, dan puluhan sarana online chatting sejenis juga merubah wajah komunikasi verbal antar manusia. Seluruh sosialisasi manusia, khususnya para pemuda, telah diambil alih oleh seperangkat teknologi dan sebuah sambungan internet.

Definisi Pemuda

Kata Pemuda sesungguhnya memiliki banyak definisi. Pertama, pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik maupun psikis sedang mengalami fase perkembangan. Merekalah sumberdaya manusia utama, calon generasi penerus menggantikan generasi sebelumnya. Secara internasional, WHO menyebut sebagai ‘young people’ dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut ‘adolescenea’ atau remaja. International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda. Sedangkan menurut UU Kepemudaan, pemuda adalah mereka yang berusia antara 18 hingga 35 tahun.
Definisi yang lain, pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, optimis, penuh semangat walau kadang bergejolak namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan sosial maupun kultural. Menilik dari sisi usia maka pemuda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis. Oleh karenanya pemuda cenderung memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat secara umum. Dalam makna yang positif aspirasi yang berbeda ini disebut dengan semangat pembaharu.
Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan generasi muda dan kaum muda. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki definisi beragam. Definisi tentang pemuda diatas lebih pada definisi teknis berdasarkan kategori usia sedangkan definisi lainnya lebih fleksibel. Dimana pemuda atau generasi muda adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan progresif.

Tantangan Pemuda

Kemajuan teknologi sebagaimana disampaikan diatas, membawa tantangan bagi generasi muda Indonesia. Tantangan utamanya adalah bagaimana para pemuda ini menjawab perkembangan teknologi, ikut serta didalamnya, mampu mengaplikasikan dan mendorong Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam pemanfaatannya, namun tidak hanyut terseret arus teknologi yang kian deras. Pemuda Indonesia harus melek teknologi, tapi jangan sampai menghilangkan semangat kebangsaannya.
Tantangan bagi generasi yang oleh Anis Matta menyebutnya sebagai generasi Gelombang Ketiga Indonesia ini semakin bertambah dengan semakin cepat dan bebasnya informasi yang diperoleh. Internet menyajikan berita dalam hitungan detik dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan dimanapun dan kapanpun. Tentu saja ini positif untuk mendongkrak kualitas hidup manusia Indonesia. Tapi disisi lain, kemudahan akses internet yang tersaji tanpa filter membawa konsekuensi yang tidak ringan.
Pornografi menempati ranking teratas ancaman internet tanpa filter bagi pemuda. Dewasa ini, paham-paham radikal yang tidak sejalan dengan ideologi bangsa Indonesia juga mulai merangkak menjadi salah satu ancaman yang membahayakan. Dampak lainnya adalah, cinta tanah air dan semangat kebangsaan semakin tergerus. Melihat betapa majunya negara lain disatu sisi, dan membandingkan carut marutnya kondisi perpolitikan Indonesia disisi yang lain, membuat nasionalisme semakin kerdil. Cinta Indonesia semakin usang.

Nasionalisme Religius

Nasionalisme Indonesia sesungguhnya berbeda dengan nasionalisme bangsa-bangsa Eropa dan Amerika. Nasionalisme Indonesia dilandasi dengan semangat keberagaman dan keber-agama-an. Semangat yang lahir dari Pancasila sebagai ideologi negara, dengan menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, dan menjadi tonggak bagi sila-sila selanjutnya.
Kelahiran Pancasila sebagai dasar bagi negara Indonesia merdeka tidak bisa dilepaskan dari gagasan tentang konstruksi negara-bangsa (nation-state). Gagasan ini lahir melalui serangkaian perdebatan dan diskusi panjang dengan sebagian kalangan yang lebih mengusulkan Indonesia menjadi negara Islam. Gagasan tentang konsep negara-bangsa ini diadopsi dari negara-negara Eropa yang telah terlebih dulu menggunakannya
Itulah sebabnya para pengusul Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), di antaranya Soekarno dan Hatta, disebut sebagai kalangan nasionalis. Kalangan nasionalis menjadi mitra debat kalangan islamis. Disebut kalangan islamis karena mereka menggagas konstruksi Indonesia merdeka sebagai negara-Islam (Islamic-state) atau Islam sebagai dasar negara.
Walaupun sebagian besar kalangan nasionalis juga beragama Islam, mereka tidak disebut sebagai kalangan islamis dalam konteks ini karena gagasan tentang konstruksi Indonesia merdeka tidak berorientasi “hanya kepada Islam”.  Tetapi berbeda dari konsep negara-bangsa yang diterapkan di Eropa yang menghilangkan peran agama, maka nasionalisme Indonesia yang diwujudkan dalam butir-butir Pancasila tetap menekankan peran agama, walau tidak dibatasi pada pengkhususan agama tertentu.
Latar belakang sejarah kelahiran konsepsi negara-bangsa di Eropa adalah penentangan kaum reformis terhadap konsep penyatuan (integralistik) antara gereja (Katolik) dan negara. Dengan kata lain, gagasan tentang negara-bangsa di Eropa muncul karena tuntutan pemisahan antara agama dan negara. Penyatuan antara keduanya telah menyebabkan berbagai bentuk penyelewengan kekuasaan. Kebijakan pemimpin agama sekaligus pemimpin negara (dalam hal ini para Uskup) yang menolak segala bentuk pendapat dari para ilmuwan yang berbeda dari tafsiran kitab suci, berujung pada pemberangusan seluruh perkembangan ilmu pengetahuan, dan mengeksekusi para pengusungnya.
Pertentangan ilmu pengetahuan dan gereja ini menyeret Eropa kedalam masa kegelapan. Kondisi yang mendorong para reformis untuk melakukan perubahan secara radikal dengan memisahkan secara mutlak antara institusi negara disatu sisi, dan institusi agama disisi lain. Mereka berpandangan bahwa negara dan agama berbeda secara diametral, tidak mungkin disatukan, dan upaya-upaya penyatuannya hanya akan berujung pada kemunduran. Konsep sekularisme inilah yang menjadi dasar negara-negara Eropa hingga saat ini.
Karakter negara-bangsa sebagai konstruksi Negara Republik Indonesia sesungguhnya berbeda secara sangat signifikan dengan konsepsi negara-bangsa yang terbangun di Eropa tersebut. Dengan konsepsi negara-bangsa berdasarkan Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, para pendukung gagasan negara-bangsa di Indonesia tidak hendak memisahkan agama dan negara, sebagaimana terjadi di Eropa, melainkan hanya tidak menjadikan agama tertentu sebagai dasar negara Indonesia merdeka.
Para tokoh pengusung Pancasila sebagai dasar negara Indonesia meyakini, agama tidak mungkin dipisahkan dengan negara. Dengan melandasi pada pengamalan nilai-nilai keagamaan, negara bisa menjalankan perannya dengan lebih baik, dimana agama tetap menjadi kontrol terhadap negara.
Dalam konteks ini, nasionalisme Indonesia dengan dasar Pancasila adalah nasionalisme religius, yakni nasionalisme yang tetap menjadikan agama sebagai dasar. Namun, agama yang dimaksud di sini bukanlah satu agama tertentu, melainkan seluruh agama yang diakui oleh negara. 

Phobia Islam

Karena konstruksi Indonesia adalah negara-bangsa berdasarkan Pancasila, maka seluruh regulasi dan kebijakan memang tidak mengatasnamakan agama tertentu. Namun, itu bukan berarti nilai-nilai agama tidak boleh masuk ke dalam regulasi-regulasi yang ada. Sebagai negara yang religius, regulasi-regulasi yang dibuat juga seharusnya selalu mempertimbangkan moralitas agama-agama yang diakui oleh negara.
Ini bisa menjadi jembatan penghubung antara para pengusung nasionalisme dan para pejuang Islamic-state (negara Islam). Agama Islam sebagai agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Indonesia, harus diperhatikan secara serius, tanpa bermaksud mereduksi peran agama lain yang juga diakui di negara Indonesia. Kebijakan negara harus berpijak pada nilai-nilai agama, dengan tetap terus memperhatikan rasa keber-agama-an masyarakatnya.
Dengan demikian, agama akan tetap berfungsi kontributif dalam memberikan rasa, bukan warna, kepada setiap pembuatan produk kebijakan politik kenegaraan. Ini sangat penting karena rasa bisa sama dalam warna yang berbeda. Artinya, sebuah aturan bisa dibuat sangat Islami, tanpa perlu memberikan label Islam. Sebuah undang-undang bisa sesuai syariah Islam, tanpa harus menamakannya Undang-Undang Syariah.
Sebaliknya, jangan pula terjadi, atas nama nasionalisme maka peran-peran agama, atau tuntutan-tuntutan kearahnya, kemudian direduksi sedemikian rupa atau kalau perlu dihilangkan sama sekali. Segala sesuatu yang berbau agama (dalam hal ini Islam) dianggap menjadi sebuah ancaman serius terhadap keberlangsungan negara. Islam dibatasi hanya pada ruang-ruang individu, dengan terus membatasi peran-perannya dalam bermasyarakat dan bernegara.
Islam seolah telah berubah menjadi momok yang menakutkan. Terlebih dengan semakin ramainya pemberitaan terkait aksi-aksi teror yang mengatas-namakan Islam, memunculkan phobia yang dalam terhadap Islam. Dampaknya, muncul ketakutan yang berlebihan terhadap segala sesuatu yang berbau Islam. Parahnya lagi, jika itu terjadi di negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam seperti Indonesia.
Melabelkan terorisme dengan Islam, justru semakin mendorong tumbuhnya radikalisme pada sebagian kelompok atau gerakan Islam. Walau memang selalu dibantah bahwa teroris tidak sama dengan Islam, namun realitas yang dibaca oleh kelompok-kelompok Islam tersebut adalah Islam-lah yang selalu menjadi kambing hitam dari semua masalah terorisme.
Persepsi Islam sebagai agama yang damai tergantikan dengan wajah Islam yang keras, radikal, teror, dan menakutkan. Segala upaya untuk menumbuhkan semangat keberislaman ditanggapi sebagai upaya untuk menghidupkan teror. Setiap gerakan yang menyeru kepada Islam, dianggap akan menyuburkan perilaku teror. Ditambah, parahnya, seluruh simbol-simbol Islam diarahkan pada sesuatu yang harus diwaspadai. Bahkan, nama-nama yang (agak) Islami pun turut dicurigai, sebagaimana yang terjadi pada automatic gate bandara Soekarno-Hatta baru-baru ini.
Radikalisme sebagian gerakan Islam (walau seringnya digeneralisir menjadi radikalisme Islam) tumbuh subur karena adanya perlakuan diskriminatif negara Barat terhadap Islam. Standar ganda yang diterapkan Amerika, misalnya, dengan selalu mengaitkan kepada aksi terorisme terhadap semua kejahatan yang pelakunya –kebetulan– beragama  Islam, sedangkan sikap yang berbeda ditunjukkan pada kejadian yang pelakunya tidak beragama Islam, menjadi akar dari perilaku radikal tersebut.
Sikap diskriminatif terhadap Islam inilah yang seolah menjadi pupuk yang menyuburkan perilaku radikal dikalangan umat Islam. Ketidak-pahaman Barat terhadap Islam dalam taraf tertentu bisa dimaklumi menjadi sumber ketakutan. Belum lagi tesis dari Samuel Huntington tentang clash of civilitation yang menempatkan Islam sebagai ‘musuh’ Barat berikutnya setelah runtuhnya Komunisme.
Pada akhirnya, seluruh ketidak-adilan negara-negara Barat beserta sikapnya yang seolah terus memusuhi Islam, memancing reaksi yang berlebihan juga dikalangan kelompok ekstrimis Islam. Seluruh simbol-simbol Barat dianggap menjadi simbol permusuhan terhadap Islam. Perang terhadap Barat diwujudkan dalam skala kecil dengan melakukan penyerangan terhadap seluruh kepentingan Barat, termasuk kepada pemerintahan yang mendukung sikap Barat. Dalam skala yang lebih luas, Amerika Serikat sebagai pemimpin negara-negara Barat menjadi target yang harus dihancurkan.
Pertentangan seperti ini terus saja meluas dan seolah tidak mendapatkan titik temu. Semakin keras Amerika memerangi terorisme (yang dalam hal ini dianggap memerangi Islam), maka semakin keras pula perlawanan yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan ekstrimis Islam. Parahnya lagi, peperangan ini kemudian menyeret dan membagi negara-negara kepada blok baru: mendukung Barat, atau mendukung Islam.

Melawan Radikalisme dengan Nasionalisme Religius

Arus informasi yang cepat membawa juga pertentangan ini keranah dalam negeri Indonesia. Seiring derasnya informasi yang masuk, membawa paham-paham radikal ini tumbuh subur di Indonesia. Pemerintah Indonesia dianggap oleh sebagian aktivis gerakan Islam yang mendukung aksi radikal tersebut merupakan perwakilan dari pemerintah Barat yang anti Islam.
Upaya pemerintah untuk menanggulangi gerakan terorisme dengan dibentuknya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), tidak kemudian menyelesaikan masalah, tetapi malah menjadi penyulut tambahan api radikalisme. BNPT dianggap menjadi senjata baru pemerintah untuk memberangus gerakan Islam.
Sikap Pemerintah Indonesia yang dinilai malah mengikuti langkah Barat dengan melakukan standar ganda terhadap Islam menjadi musuh gerakan radikal di negeri ini. Sebutlah misalnya standar ganda yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ketika ada sebuah bom yang meledak, atau ketika ada kasus penembakan terhadap aparat kepolisisn. Ketika dilakukan oleh ‘oknum’ yang beragama Islam, dengan serta merta dikaitkan dengan gerakan terorisme. Sedang jika pelakunya bukan beragama Islam, hanya dianggap sebuah gerakan separatisme.
Perilaku represif yang juga ditunjukkan secara berlebihan oleh BNPT semakin menguatkan kesan bahwa lembaga ini dibentuk hanya untuk memerangi aktifis Islam. ‘Drama’ penangkapan pelaku terorisme yang sangat berlebihan, hingga pengejaran dan penggerebekan sampai kedalam masjid dan pesantren, tidak kemudian membunuh paham radikalisme yang telah berkembang, tetapi justru membuat paham ini semakin menjadi-jadi.
Pola pendekatan penanggulangan terorisme sudah semestinya diubah menjadi pendekatan yang lebih humanis. Penyelesaian harus dilakukan mulai akar masalahnya. Radikalisme (Islam) tidak mungkin bisa dihentikan dengan pola radikalisme yang justru dilakukan oleh negara. Semakin represif negara menindak gerakan Islam, maka akan semakin kuat juga aktifis gerakan ini melawan.
Pendekatan yang lebih tepat, menurut hemat penulis, adalah dengan mengembalikan semangat nasionalisme religius di negeri ini. Bukannya memberangus gerakan Islam, tetapi malah harusnya merangkul gerakan ini untuk turut bersama membangun negeri. Mengembalikan proporsi agama dalam negara sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila, dengan melibatkan seluas mungkin peran-peran tokoh agama dalam penyusunan kebijakan.
Memberikan kesempatan peran kontributif secara proporsional terhadap pemimpin-pemimpin gerakan Islam (bersama pimpinan-pimpinan agama yang lain) akan meminimalisir aksi-aksi radikalistik yang dilakukan oleh aktifisnya. Tapi tentu saja hal ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan tidak hanya formalistik semata.
Langkah berikutnya adalah mendukung penuh upaya-upaya penyebaran Islam yang moderat, yang rahmatan lil ‘alamin. Memberikan pemahaman yang utuh terhadap Islam sesungguhnya adalah langkah yang paling efektif untuk melakukan deradikalisasi. Jangan sampai muncul ungkapan tirani minoritas terhadap mayoritas. Islam tidak lagi dijadikan sub-ordinat, mendorong umat Islam menjadi tuan di negeri sendiri.

Nasionalisme Religius dikalangan pemuda

Perlu disadari, bahwa paham radikalisme tumbuh berkembang paling subur adalah dikalangan pemuda. Semangat pembaharu yang dimiliki para pemuda menjadikan mereka adalah cadangan keras (iron stock) sekaligus agen perubah (agen of change) yang sangat efektif untuk membangun negeri.
Para pemuda Indonesia secara umum terbagi menjadi 3 golongan besar. Pertama, mereka yang sangat aktif dalam gerakan keislaman. Umumnya golongan ini anti terhadap nasionalisme, dan menganggap nasionalisme tidak sejalan dengan Islam. Pada golongan inilah radikalisme tumbuh dengan subur. Selama ini, golongan inilah yang menjadi objek operasi dari proyek penanggulangan terorisme yang dilakukan oleh BNPT, dan golongan inilah yang paling keras melawan sehingga radikalisme semakin subur.
Golongan yang kedua adalah mereka yang semangat nasionalismenya tinggi, namun sangat anti dengan gerakan Islam. Mereka berpandangan bahwa gerakan Islam justru mengancam keutuhan NKRI. Negara harus dibangun dengan prinsip-prinsip sekularisme sebagaimana yang diterapkan di Barat. Aksi-aksi dari golongan ini nyatanya justru sering berhadapan secara diametral dengan golongan yang pertama.
Golongan ketiga, yang masih merupakan golongan terbesar saat ini, adalah mereka yang tidak terlalu consern terhadap gerakan Islam, tetapi juga bersikap masa bodoh terhadap perkembangan negeri. Mereka larut dengan globalisasi, sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan cenderung bersifat anti sosial. Sosialisasi mereka hanya dilakukan di dunia maya. Sedangkan dunia nyatanya hanya dihabiskan pada model ‘buta cinta’ (buku, pesta, dan cinta).
Pemerintah Indonesia seharusnya mengupayakan dengan serius lahirnya golongan yang keempat, yaitu golongan pemuda yang nasionalis, namun tetap religius dan mampu mengembangkan teknologi. Generasi ini merupakan generasi terbaik untuk membangun negeri ini. Semangat nasionalisme pemuda, jika diimbangi dengan religiusitas yang kuat, akan melahirkan sebuah generasi dengan kekuatan perubah yang besar.
Pertanyaan paling penting adalah, bagaimana menumbuhkan semangat nasionalisme religius ini ditengah gempuran globalisasi yang demikian hebat?
Langkah awal yang harus ditempuh adalah menumbuhkan semangat keberislaman para pemuda. Pemahaman yang utuh terhadap Islam, sejatinya akan melahirkan rasa cinta tanah air. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sa’id Hawwa didalam buku Al-Islam, bahwa “Islam adalah sistem yang syamil (menyeluruh), mencakup semua aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran.
Sebagaimana juga aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.”
Nasionalisme yang lahir sebagai buah dari pemahaman Islam yang utuh, akan menjadi nasionalisme religius yang kokoh, tidak mudah tergerus oleh globalisasi, dan mempunyai imunitas yang mumpuni terhadap paham-paham radikalisme. Ia adalah sebuah kekuatan yang besar, yang mampu mendorong bangsa beberapa tingkat lebih maju.
Dengan memfokuskan diri pada pembangunan nasionalisme religius dikalangan pemuda, pemerintah sesungguhnya telah menyelesaikan beberapa PR sekaligus. Pemuda sebagai tulang punggung bangsa menjadi lebih optimal dan berdaya, paham radikalisme yang merusak bisa diminimalisir bahkan dihilangkan, semangat nasionalisme bangsa bisa semakin ditumbuhkan, dan ideologi Pancasila bisa ditegakkan.
Saatnya membangun bangsa. Bukan saatnya lagi ada pertarungan sesama anak bangsa, apalagi pertarungan antara pemerintah dengan rakyatnya. Saatnya Indonesia mampu berbicara lebih banyak dipentas dunia. Saatnya membangun bangsa, dengan menumbuhkan semangat nasionalisme religius dikalangan pemuda.
Selamat ulang tahun ke-70, negeriku. Selamat ulang tahun, Indonesiaku.
Wallahu a’lam bish-showab.

Daftar Pustaka
-          Al Qur’anul Karim
-          Al Banna, Hasan (1997).Risalah Pergerakan, Solo: Intermedia
-          Artawijaya (2012). Indonesia Tanpa Liberal, Jakarta: Pustaka Al Kautsar
-          Matta, Anis (2014). Gelombang Ketiga Indonesia, Jakarta: TFI
-          Thahhan, Mustafa Muhammad ().Risalah Pergerakan Pemuda Indonesia, Jakarta: Syamil